Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Pesawat? Mengupas Riset Synthetic Biology BRIN yang Menjanjikan Masa Depan Hijau dan Ekonomi Sirkular Indonesia

Ketika berbicara tentang teknologi masa depan, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada AI, robot, atau komputasi awan. Namun ada satu bidang teknologi yang mungkin kurang mendapat sorotan tetapi potensinya luar biasa besar untuk Indonesia, yaitu bioteknologi atau lebih spesifik lagi, synthetic biology. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menempatkan bidang ini sebagai salah satu prioritas riset jangka menengah dan panjang menuju 2050. Dalam roadmap BRIN, synthetic biology disebut sebagai salah satu teknologi kunci yang akan membuka peluang baru di bidang pangan, energi, dan material .

Apa itu synthetic biology? Sederhananya, ini adalah rekayasa hayati tingkat lanjut di mana ilmuwan tidak hanya memanfaatkan organisme yang ada, tetapi juga mendesain ulang sistem biologis untuk melakukan fungsi-fungsi baru yang diinginkan. Bayangkan bakteri yang direkayasa secara genetik sehingga bisa “memakan” sampah plastik dan mengubahnya menjadi bahan kimia bernilai ekonomi. Atau ragi yang dimodifikasi sehingga bisa memproduksi protein susu tanpa perlu sapi, menghasilkan susu sintetis yang ramah lingkungan. Atau alga yang dirancang untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan mengubahnya menjadi bahan bakar pesawat terbang. Inilah janji synthetic biology, dan Indonesia mulai serius menggarapnya .

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa fokus riset teknologi strategis mencakup kecerdasan buatan, energi, hingga bioteknologi. Menuju 2030, BRIN akan fokus pada isu scaling, integrasi teknologi, dan kepercayaan publik, dengan prioritas pada kecerdasan buatan, energi dan baterai generasi baru, dekarbonisasi industri, serta teknologi hijau. Sementara menuju 2050, riset akan diarahkan pada sistem sosio-teknis otonom, bioteknologi lanjut, synthetic biology, ekonomi antariksa, hingga penyimpanan data berbasis DNA .

Bayangkan implikasinya bagi Indonesia. Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia, kita memiliki “perpustakaan genetik” yang luar biasa kaya. Mikroorganisme yang hidup di hutan hujan tropis, di laut dalam, di kawah gunung berapi, semuanya menyimpan potensi yang belum tergali. Dengan synthetic biology, kita bisa “membaca” kode genetik mereka, memahami enzim-enzim unik yang mereka miliki, lalu merekayasanya untuk kepentingan industri. Ini adalah bentuk hilirisasi yang sama sekali baru, bukan mengolah nikel atau bauksit, tetapi mengolah informasi genetik menjadi nilai ekonomi.

Di sektor pangan, BRIN juga mendorong riset pangan masa depan atau future food, seperti daging analog, cultured meat (daging yang ditumbuhkan di laboratorium dari sel hewan), serta teknologi pengawetan pangan hemat energi. Semua ini adalah bagian dari upaya membangun ketahanan pangan jangka panjang, mengurangi ketergantungan pada impor, dan menciptakan sumber protein baru yang lebih berkelanjutan secara lingkungan .

Tentu saja, synthetic biology juga membawa tantangan etika dan keamanan hayati. Organisme hasil rekayasa genetik harus dikelola dengan hati-hati agar tidak mengganggu keseimbangan ekosistem alami. Di sinilah pentingnya kerangka regulasi yang kokoh, yang tidak hanya mengatur aspek keamanan pangan, tetapi juga aspek keamanan hayati secara lebih luas. BRIN menyadari pentingnya dimensi sosial ini. Arif Satria menekankan, “Teknologi harus maju, tetapi aspek sosial tidak boleh tertinggal. Tanpa itu, inovasi tidak akan berkelanjutan” . Tahun 2026 adalah tahun di mana Indonesia mulai membangun fondasi riset yang akan menentukan posisinya di era bioekonomi abad ke-21.