Perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi sektor pertanian dan perikanan Indonesia. Musim hujan datang tak menentu, kemarau berkepanjangan, cuaca laut tidak bisa ditebak, dan serangan hama semakin agresif. Petani dan nelayan yang selama ini mengandalkan pengetahuan turun-temurun mulai kebingungan. Namun di tengah kesulitan ini, teknologi hadir sebagai penolong. Sensor-sensor IoT perlahan mulai dipasang di sawah dan di laut, memberi data akurat yang membantu petani dan nelayan mengambil keputusan lebih cerdas.
Di sektor pertanian, sensor yang ditanam di tanah mampu mengukur kelembaban, suhu, tingkat keasaman (pH), dan kandungan unsur hara secara real-time . Data ini dikirim ke ponsel petani melalui aplikasi sederhana. Petani tidak perlu lagi menebak-nebak kapan waktu tepat untuk menanam, berapa banyak air yang dibutuhkan, atau pupuk apa yang harus diberikan. Aplikasi akan memberi rekomendasi berdasarkan data aktual dari lahannya sendiri. Jika ada tanda-tanda serangan hama, sensor bisa mendeteksinya lebih awal, sebelum hama menyebar luas.
Inovasi seperti SoilPIN, alat portabel pemantau kesehatan tanah karya pelajar Indonesia, menunjukkan bahwa teknologi ini bisa dihadirkan dalam format sederhana dan terjangkau . Alat berbentuk pin ini mampu mengukur delapan parameter tanah, termasuk pH, kelembaban, dan unsur hara N, P, K, lalu memberikan rekomendasi tindakan melalui aplikasi ponsel. Petani kecil yang selama ini mengambil keputusan hanya berdasarkan intuisi, kini punya akses ke data ilmiah yang akurat.
Di sektor perikanan, teknologi juga mulai dimanfaatkan. Nelayan tradisional sering kesulitan membaca tanda-tanda alam untuk menentukan lokasi ikan. Sekarang, dengan aplikasi berbasis data satelit dan IoT, mereka bisa mendapatkan informasi tentang suhu permukaan laut, tingkat klorofil, dan pola arus yang mengindikasikan keberadaan ikan. Beberapa kapal mulai dilengkapi dengan sensor yang terhubung ke pusat data, memungkinkan pemantauan stok ikan dan prediksi daerah tangkapan potensial .
Pemerintah melalui berbagai program mendorong adopsi teknologi ini, terutama di sektor pangan yang menjadi prioritas nasional. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mencontohkan, AI mampu membuat pertanian lebih presisi, melakukan prediksi logistik dengan tepat, serta melakukan pemantauan secara konsisten . Dengan data yang akurat, petani bisa menghemat biaya pupuk hingga puluhan persen, nelayan bisa menghemat bahan bakar karena tidak perlu berlayar ke lokasi yang salah, dan hasil panen atau tangkapan meningkat signifikan.
Tantangan terbesar adalah adopsi dan literasi. Tidak semua petani dan nelayan paham cara menggunakan teknologi ini. Tidak semua wilayah terjangkau internet. Di sinilah peran penyuluh pertanian dan perikanan yang dibekali pengetahuan digital menjadi sangat penting. Mereka harus bisa menjadi jembatan antara teknologi canggih dan praktik di lapangan. Namun dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem, teknologi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Petani dan nelayan yang tidak beradaptasi akan semakin tertinggal.