Institusi pendidikan modern menggunakan puluhan aplikasi dan platform digital: satu untuk manajemen pembelajaran (LMS), satu lagi untuk sistem informasi akademik (SIS), yang lain untuk perpustakaan, keuangan, konferensi video, dan alat kolaborasi. Tantangan terbesar bukan lagi pada memiliki sistem-sistem canggih tersebut, tetapi pada bagaimana semua sistem ini dapat “berbicara” satu sama lain secara lancar, efisien, dan aman. Inilah esensi dari interoperabilitas—standar teknis yang memungkinkan pertukaran data dan fungsionalitas antar sistem yang berbeda, menghilangkan friction dalam pengalaman pengguna dan proses administrasi.
Tanpa interoperabilitas, terjadi “efek silo digital.” Dosen harus memasukkan nilai secara manual dari LMS ke SIS. Siswa harus login berkali-kali dengan kredensial berbeda. Data kehadiran tidak terhubung dengan sistem bimbingan. Inefisiensi ini menghabiskan waktu berharga pendidik dan staf, menciptakan frustrasi pengguna, serta meningkatkan risiko kesalahan data. Yang lebih parah, potensi analitik data yang mendalam menjadi terhambat karena data tersebar dan tidak terhubung.
Solusinya terletak pada adopsi standar terbuka (open standards) yang menjadi bahasa universal antar sistem. Standar seperti Learning Tools Interoperability (LTI) memungkinkan alat pembelajaran pihak ketiga (seperti simulator, quiz interaktif) untuk diintegrasikan mulus ke dalam LMS tanpa proses instalasi yang rumit. OneRoster menyediakan cara standar untuk mengimpor/ekspor data daftar siswa, kursus, dan nilai. Caliper Analytics memberikan kerangka kerja standar untuk mengirimkan data analitik pembelajaran dari berbagai sumber ke sebuah learning data warehouse.
Implementasi arsitektur berbasis API (Application Programming Interface) yang modern adalah tulang punggung teknisnya. API bertindak sebagai waiters yang terstandarisasi, mengambil dan mengantarkan data antar sistem sesuai permintaan. Dengan API yang terdokumentasi dengan baik, integrasi menjadi lebih cepat, aman, dan dapat diskalakan. Pendekatan ini memungkinkan institusi untuk membangun “lingkungan ekosistem teknologi” di mana mereka dapat memilih best-in-breed aplikasi untuk setiap fungsi, tanpa dikunci (vendor lock-in) pada satu penyedia suite yang mungkin kurang optimal di beberapa aspek.
Dampak strategis dari interoperabilitas sangat besar. Ia menciptakan pengalaman pengguna yang mulus (seamless) bagi siswa dan staf. Ia memberdayakan analitik pembelajaran yang komprehensif dengan menggabungkan data dari seluruh titik interaksi. Ia juga mengurangi biaya pemeliharaan dan meningkatkan keamanan dengan mengurangi kebutuhan untuk login ganda dan penyimpanan data redundan. Dengan kata lain, interoperabilitas bukanlah fitur teknis tambahan; ia adalah prasyarat fundamental untuk mewujudkan visi pendidikan digital yang benar-benar terintegrasi, cerdas, dan berpusat pada manusia.