Cape Canaveral – Lima tahun lalu, terbang ke luar angkasa hanya mimpi bagi miliarder dengan uang Rp 100 miliar lebih. Richard Branson dan Jeff Bezos sempat melakukannya, tapi hanya 5 menit di batas atmosfer, itu pun dengan harga selangit.
Tahun 2026, semuanya berubah drastis.
SpaceX Menang Telak
Starship SpaceX akhirnya beroperasi penuh setelah bertahun-tahun uji coba meledak di Texas. Kini, roket raksasa ini terbang rutin setiap minggu dari Florida dan Texas, membawa muatan dan penumpang ke orbit.
Berapa harga tiketnya? SpaceX mematok $250.000 atau sekitar Rp 4 miliar per kursi untuk misi 3 hari di orbit Bumi. Masih sangat mahal, tapi ini turun 90% dari harga 5 tahun lalu. Bandingkan dengan harga ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang dulu mencapai $50 juta.
Kompetitor Mulai Bermunculan
Blue Origin milik Bezos akhirnya meluncurkan roket New Glenn yang bisa digunakan ulang. Fokus mereka pada pariwisata dengan kabin mewah, jendela besar, dan layanan bintang 5. Harganya lebih mahal, sekitar $500.000, tapi target pasar berbeda: mereka yang ingin pengalaman mewah, bukan sekadar ke luar angkasa.
Virgin Galactic yang sempat terlilit masalah, bangkit dengan pesawat luar angkasa generasi baru. Mereka fokus pada penerbangan sub-orbital (hanya 15 menit di batas angkasa) dengan harga $100.000. Ini opsi termurah untuk merasakan gravitasi nol dan melihat Bumi dari kegelapan.
China dan Rusia Tak Tinggal Diam
China melalui CASC menawarkan tiket ke stasiun luar angkasa mereka, Tiangong, dengan harga $15 juta. Lebih murah dari ISS, tapi masih mahal untuk turis biasa. Target mereka adalah astronaut profesional dan peneliti dari negara-negara sahabat.
Rusia, yang selama puluhan tahun mengandalkan Soyuz, mulai tertinggal. Kurang investasi dan sanksi membuat program luar angkasa mereka mandek. Beberapa kosmonaut pindah ke perusahaan swasta AS.
Hotel Luar Angkasa Pertama
Tahun 2026 juga menjadi tahun di mana hotel luar angkasa pertama mulai beroperasi. Voyager Station milik Orbital Assembly, berbentuk roda raksasa yang berputar untuk menciptakan gravitasi artifisial.
Hotel ini bisa menampung 28 tamu dengan kabin pribadi, restoran, bar, dan tentu saja jendela besar untuk melihat Bumi. Harga seminggu di sana? $5 juta. Masih untuk kalangan super kaya, tapi konsepnya terbukti dan akan ditiru.
Dampak ke Bumi
Wisata luar angkasa memicu kontroversi. Aktivis iklim menuding ini pemborosan: satu penerbangan roket menghasilkan emisi karbon setara ratusan penerbangan komersial. SpaceX membalas dengan klaim bahan bakar mereka (metana) lebih bersih dan mereka menanam pohon untuk kompensasi karbon.
Yang lebih positif: teknologi yang dikembangkan untuk pariwisata menetes ke industri lain. Material ringan, sistem daur ulang air canggih, dan makanan awet lama mulai digunakan di Bumi.
Indonesia di Mana?
Indonesia belum punya program luar angkasa berarti selain satelit komunikasi. Tapi beberapa anak muda mulai merintis: tim dari ITB dan UI mengikuti kompetisi roket mahasiswa di AS. Mimpi menjadi astronaut mungkin masih jauh, tapi bukan mustahil.
BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) mulai menjajaki kerja sama dengan SpaceX untuk meluncurkan satelit dengan harga lebih murah. Jika berhasil, ini bisa menghemat miliaran rupiah.