Jakarta – Vaksin mRNA sukses besar saat pandemi COVID-19. Teknologi ini ternyata punya potensi jauh lebih besar: melawan kanker.
Vaksin Kanker Personal
Setiap tumor kanker punya mutasi unik (neoantigen) yang berbeda antara satu pasien dengan pasien lain. Vaksin mRNA personal dirancang khusus untuk mengenali mutasi unik tumor pasien.
Caranya: tumor pasien diambil sampel, diurutkan DNA-nya, diidentifikasi mutasi terbaik sebagai target. mRNA yang mengkode protein mutan itu disintesis, disuntikkan ke pasien. Sistem imun “belajar” mengenali dan menyerang sel dengan mutasi itu.
Hasil Uji Klinis
Hasil awal menjanjikan. Uji coba pada melanoma (kanker kulit) dan kanker pankreas menunjukkan respons imun kuat. Pada beberapa pasien, tumor mengecil atau bahkan hilang.
Moderna dan Merck bekerja sama mengembangkan vaksin mRNA untuk berbagai kanker. Target 2027-2028, beberapa produk mungkin dapat izin edar.
Kombinasi dengan Imunoterapi
Vaksin mRNA bekerja lebih baik jika dikombinasikan dengan imunoterapi (seperti checkpoint inhibitor). Kombinasi ini seperti “mengajar” dan “membebaskan” sistem imun untuk melawan kanker.
Tantangan
Biaya produksi vaksin personal masih mahal ($100.000 per pasien). Prosesnya juga lama (1-2 bulan), padahal pasien kanker butuh cepat. Otomatisasi dan AI akan mempercepat dan menekan biaya.
Di Indonesia, teknologi ini masih jauh. Tapi riset kolaborasi dengan institusi luar negeri bisa dimulai, setidaknya untuk uji klinis terbatas.
Harapan Baru
Kanker bukan lagi vonis mati. Vaksin mRNA personal memberi harapan, terutama untuk kanker yang selama ini sulit diobati. Masa depan onkologi adalah personal: obat yang tepat, untuk pasien tepat, pada waktu tepat.