Jakarta, Maret 2026 – Dua tahun jelang Pemilu 2029, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai mempersiapkan pertahanan siber berlapis untuk melindungi data 200 juta pemilih. Pelajaran pahit dari serangan ransomware ke Pusat Data Nasional tahun lalu menjadi cambuk.
KPU bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan perusahaan keamanan siber swasta membangun sistem pertahanan berlapis. Data pemilih tidak hanya disimpan di satu tempat, tetapi didistribusikan ke beberapa pusat data dengan enkripsi kuantum.
Yang paling inovatif adalah penggunaan teknologi blockchain untuk pencatatan suara. Setiap suara yang masuk akan dicatat sebagai blok data yang tidak bisa diubah. Jika ada upaya meretas atau mengubah suara, sistem akan langsung mendeteksi dan menolak perubahan.
“Kami tidak bisa jamin 100 persen aman, tapi kami bisa jamin bahwa setiap upaya serangan akan terdeteksi dan gagal. Pemilu 2029 akan menjadi pemilu paling aman secara digital dalam sejarah Indonesia,” ujar Komisioner KPU.