Jakarta, Maret 2026 – Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta Timur, seorang siswa kelas 9 SMP sedang asyik belajar matematika di tabletnya. Yang menarik, soal yang muncul di hadapannya berbeda dengan soal yang diterima teman sekelasnya. Sistem AI di platform “Cerdas” milik Kementerian Pendidikan telah menganalisis ribuan data tentang dirinya.
Platform ini mampu mendeteksi bahwa siswa ini belajar paling efektif dengan video animasi berwarna cerah dan soal bertahap dari mudah ke sulit. Sementara temannya lebih suka teks dan diagram, serta soal acak. Setiap siswa mendapat pengalaman belajar yang unik, disesuaikan dengan gaya belajar masing-masing.
Teknologi adaptif ini bekerja dengan mengumpulkan data dari interaksi siswa. Berapa lama mereka menonton video, jenis soal apa yang sering salah, jam berapa mereka paling produktif, bahkan gerakan mouse dan pola scroll halaman dianalisis untuk menentukan tingkat fokus.
Guru tidak lagi sibuk membuat rencana pembelajaran yang sama untuk semua murid. Mereka mendapat laporan harian dari sistem tentang perkembangan setiap siswa, lengkap dengan rekomendasi intervensi. Siswa A perlu pendalaman konsep pecahan, siswa B butuh latihan soal cerita, siswa C siap melanjutkan ke materi berikutnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengklaim bahwa platform ini berhasil menaikkan rata-rata nilai ujian nasional sebesar 15 persen dalam uji coba di 500 sekolah tahun lalu. “Ini bukan menggantikan guru, tapi memberdayakan guru dengan data. Guru sekarang bisa fokus pada hal yang benar-benar penting, membimbing dan memotivasi,” ujarnya.
Tantangan terbesar adalah ketersediaan perangkat dan internet di daerah terpencil. Pemerintah mengatasi ini dengan program “Tablet Merdeka” yang membagikan 2 juta tablet ke siswa kurang mampu, serta kerja sama dengan operator seluler untuk paket data pendidikan bersubsidi.
Kritik datang dari pegiat pendidikan yang khawatir tentang privatisasi data anak. Semua data belajar anak Indonesia, mulai dari kebiasaan hingga kelemahan akademik, terekam di server swasta. Pemerintah menjamin data ini hanya untuk kepentingan pendidikan dan tidak akan dikomersialkan, tapi skeptisisme tetap ada.