Melampaui pelestarian artefak, tahun 2026 melihat munculnya genetika budaya—pendekatan yang memperlakukan tradisi, bahasa, ritual, dan keahlian sebagai sistem informasi yang dapat dipetakan, dianalisis, dan diregenerasi mirip dengan kode genetik.
Tim interdisipliner menggunakan motion capture 3D untuk merekam tarian tradisional tidak hanya sebagai gerakan, tetapi sebagai algoritma kinetik yang dapat diajarkan kepada generasi mendatang melalui antarmuka VR. Bahasa yang hampir punah dianalisis bukan hanya kosakatanya, tetapi struktur kognitifnya—bagaimana penuturnya mengkategorikan dunia—dan digunakan untuk membuat language learning AI yang mengajarkan bukan hanya kata-kata, tetapi pola pikir.
Yang paling kontroversial adalah proyek budaya sintetis—menggabungkan elemen dari tradisi yang berbeda untuk menciptakan bentuk ekspresi budaya baru yang tetap otentik secara emosional. Genetika budaya menimbulkan pertanyaan mendalam: apakah esensi budaya dapat direduksi menjadi data? Apakah regenerasi budaya melalui teknologi merupakan pelestarian atau penciptaan sesuatu yang baru?