Visi perkotaan tahun 2026 yang paling radikal adalah simbiosis perkotaan—model di mana kota tidak dirancang untuk manusia saja, tetapi sebagai jaringan yang saling mendukung dari banyak spesies.
Gedung-gedung memiliki infrastruktur terintegrasi untuk kehidupan liar: dinding lebah madu soliter, ceruk kelelawar yang membantu pengendalian serangga, atap yang dirancang khusus untuk burung langka. Taman tidak hanya untuk rekreasi manusia, tetapi koridor ekologis yang menghubungkan habitat alami.
Sistem air perkotaan dirancang dengan tanaman filtrasi alami dan struktur yang mendukung kehidupan akuatik. Bahkan pencahayaan jalan disesuaikan untuk meminimalkan dampak pada migrasi burung dan serangga nokturnal.
Warga terlibat dalam pemantauan biodiversitas partisipatif, menggunakan aplikasi untuk melacak spesies yang mereka temui. Kebijakan kota dibuat dengan mempertimbangkan kesejahteraan multispesies, mengakui bahwa kesehatan ekosistem perkotaan bergantung pada keragaman kehidupan di dalamnya. Kota menjadi contoh nyata bahwa kemajuan manusia tidak perlu mengorbankan alam, tetapi dapat berkembang bersamanya.