Pendahuluan
Vaksin harus disimpan pada suhu tertentu (2-8°C untuk vaksin umum). Fluktuasi suhu merusak vaksin. Penelitian ini mengembangkan sistem monitoring suhu dan kelembaban untuk cold chain vaksin di puskesmas.
Desain Sistem
Hardware:
- Mikrokontroler: ESP8266
- Sensor: DS18B20 (suhu, waterproof) di 3 titik lemari es, DHT22 (suhu+kelembaban ruangan)
- Data logger: microSD untuk backup
- Buzzer untuk alarm lokal
Komunikasi: WiFi, data dikirim ke cloud setiap 5 menit
Parameter Kritis
- Suhu vaksin: 2-8°C
- Suhu freezer: -15 s.d -25°C (untuk vaksin tertentu)
- Kelembaban: <60% (untuk mencegah kondensasi)
Notifikasi
- Peringatan: suhu mendekati batas (2,5°C atau 7,5°C) → SMS ke petugas
- Kritis: suhu di luar 2-8°C selama >30 menit → SMS + email ke puskesmas dan dinas kesehatan
- Log: data tersimpan untuk audit
Implementasi
Dipasang di 10 puskesmas di Kabupaten Bandung selama 6 bulan.
Hasil
- Mendeteksi 3 kejadian suhu <2°C (set kompresor terlalu dingin) – segera diatasi
- 2 kejadian listrik padam terdeteksi (suhu naik) – genset dinyalakan
- Akurasi sensor: ±0,2°C (dibanding termometer kalibrasi)
- Tidak ada vaksin rusak selama periode uji (sebelumnya rata-rata 2 kali setahun)
Pembahasan
Baterai cadangan diperlukan untuk saat listrik padam (data tetap terekam). Integrasi dengan genset otomatis direncanakan.
Kesimpulan
IoT monitoring cold chain vaksin efektif menjaga kualitas vaksin dan mengurangi risiko kerusakan.
Kata Kunci: Monitoring Vaksin, Cold Chain, IoT, Suhu, Puskesmas