Pesawat Luar Angkasa Komersial: Terbang Jakarta-New York via Luar Angkasa Cuma 2 Jam

Perjalanan antar benua selama ini memakan waktu bel’asan jam, melelahkan dan membuang waktu produktif. Tahun 2027, teknologi penerbangan suborbital mencapai kematangan komersial dengan hadirnya layanan penerbangan Jakarta-New York melalui luar angkasa yang hanya memakan waktu dua jam. Dikembangkan oleh perusahaan rantispace asal Amerika bekerja sama dengan maskapai Garuda Indonesia, layanan ini mengubah konsep perjalanan jarak jauh selamanya.

Pesawat yang digunakan bernama Starliner, berbentuk seperti roket dengan sayap, mampu membawa lima puluh penumpang dalam kabin bertekanan mewah. Proses penerbangan dimulai dengan lepas landas vertikal dari bandara khusus, mirip dengan roket. Setelah mencapai ketinggian dua puluh kilometer, mesin roket menyala dan mendorong pesawat hingga kecepatan Mach 20, dua puluh kali kecepatan suara, menembus atmosfer hingga ketinggian seratus kilometer, tepat di batas luar angkasa. Pada ketinggian ini, penumpang dapat melihat lengkungan bumi dan langit hitam pekat melalui jendela kabin.

Setelah mencapai puncak lintasan, pesawat meluncur turun kembali ke atmosfer, mendarat horizontal seperti pesawat biasa di bandara tujuan. Seluruh perjalanan Jakarta-New York, yang biasanya memakan waktu dua puluh satu jam dengan transit, kini hanya seratus dua puluh menit. Penumpang bahkan tidak perlu repot mengganti waktu, karena perjalanan singkat ini tidak cukup untuk menyebabkan jet lag. Sarapan di Jakarta, tiba di New York masih pagi hari waktu setempat.

Tantangan terbesar dalam penerbangan suborbital adalah akselerasi dan deselerasi ekstrem yang mencapai 4G, setara dengan roller coaster ekstrem. Untuk mengatasinya, kursi penumpang dirancang khusus dengan sistem peredam yang menyesuaikan posisi tubuh secara otomatis. Penumpang juga diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan dan pelatihan singkat sebelum penerbangan. Harga tiket sekali jalan sekitar lima puluh ribu dolar AS, memang sangat mahal, tetapi untuk eksekutif yang waktu sangat berharga, ini investasi sepadan.

Dampak teknologi ini terhadap bisnis global sangat besar. Negosiasi tatap muka antar benua menjadi lebih mudah, pertemuan darurat dapat dilakukan dalam hitungan jam, dan pasar tenaga kerja global semakin terintegrasi. Para analis memperkirakan dalam satu dekade, harga akan turun drastis seiring dengan peningkatan kapasitas dan kompetisi, mirip dengan sejarah penerbangan komersial yang dulu hanya untuk orang kaya kini menjadi terjangkau kelas menengah. Bandara-bandara internasional besar mulai membangun landasan khusus untuk penerbangan suborbital ini.