Ketika perkembangan perkotaan dan industri terus menggerus situs sejarah dan ekosistem alami Indonesia, sekelompok arsitek, seniman, dan teknolog mengembangkan pendekatan konservasi yang radikal: menggunakan Augmented Reality (AR) untuk melapisi masa lalu dan masa depan yang mungkin di atas realitas saat ini. Ini bukan sekadar tur virtual, melainkan alat advokasi dan perencanaan partisipatif yang memungkinkan masyarakat melihat konsekuensi dari berbagai pilihan pembangunan.
Di Jakarta, aplikasi “Jakarta Layered” memungkinkan pengguna mengarahkan ponsel mereka ke jalanan ibukota dan melihat empat lapisan waktu sekaligus: (1) peta Batavia abad ke-17, (2) foto hitam-putih era 1950-an, (3) kondisi saat ini, dan (4) visualisasi tiga skenario masa depan 2045—dari “business as usual” dengan gedung pencakar langit lebih banyak, hingga visi kota hijau dengan kanal-kanal yang dipulihkan dan ruang terbuka hijau 30%. Dengan menggeser slider, warga bisa melihat bagaimana keputusan hari ini—mempertahankan bangunan tua vs membongkar untuk mall, menanam pohon vs menambahkan jalur kendaraan—akan membentuk kota mereka puluhan tahun mendatang.
Teknologi ini menjadi alat demokrasi perencanaan kota yang powerful. Ketika pemerintah kota mengusulkan pembangunan tol laut, warga pesisir bisa langsung melihat melalui AR bagaimana proyek itu akan mengubah pemandangan, memengaruhi mata pencaharian nelayan, dan bahkan memproyeksikan kenaikan permukaan air akibat perubahan iklim. Data tidak lagi abstrak—dampaknya terlihat di halaman depan rumah mereka.
Di bidang konservasi alam, AR digunakan untuk “menghidupkan kembali” spesies yang punah atau terancam. Di Taman Nasional Gunung Leuser, pengunjung bisa mengarahkan perangkat mereka ke area hutan dan melihat kawanan orangutan, harimau Sumatera, dan badak Sumatera—spesies yang semakin sulit ditemui di alam—berjalan bebas dalam ukuran asli. Lebih dari sekadar atraksi turis, ini adalah alat edukasi emosional: dengan membuat yang tak terlihat menjadi terlihat, teknologi ini menciptakan hubungan emosional yang mendorong tindakan konservasi.
Yang paling inovatif adalah penggunaan AR untuk konservasi berbasis masyarakat. Di Bali, aplikasi “Subak AR” membantu petani melihat aliran air tradisional subak yang sudah rusak, dan bagaimana merestorasi sistem ini bisa meningkatkan hasil panen. Petani tua yang buta huruf, yang tidak bisa membaca peta atau laporan teknis, bisa “melihat” solusi dalam konteks sawah mereka sendiri, dan memberikan masukan berdasarkan pengetahuan lokal mereka.
Tantangan teknis utama adalah akurasi geospasial dan kontekstual. AR tidak boleh sekadar menempatkan objek 3D di koordinat GPS, tetapi harus memahami konteks: bayangan harus jatuh dengan benar sesuai waktu hari dan musim, refleksi di air harus realistis, vegetasi harus sesuai dengan ekologi lokal. Tim pengembang menghabiskan ribuan jam untuk “melatih” sistem AR mereka dengan data lokasi spesifik, bahkan merekam perubahan cahaya di lokasi yang sama pada jam dan musim yang berbeda.
Pada tingkat filosofis, AR konservasi mengajukan pertanyaan menarik tentang apa itu “realitas” dalam era digital. Jika kita bisa melihat masa lalu yang hilang dan masa depan yang mungkin di tempat yang sama dengan masa kini, maka waktu bukan lagi linier, tetapi multilayered dan simultan. Pemahaman ini bisa mengubah cara kita membuat keputusan—kita tidak hanya memikirkan konsekuensi jangka pendek, tetapi bisa “melihat” dampak jangka panjang dalam konteks nyata.
Dalam beberapa tahun ke depan, teknologi AR mungkin akan mengubah konservasi dari aktivitas reaktif (melindungi apa yang tersisa) menjadi praktik proaktif dan partisipatif (secara kolektif memvisualisasikan dan mewujudkan masa depan yang kita inginkan). Ini adalah konservasi yang tidak bernostalgia pada masa lalu, tetapi menggunakan pemahaman tentang masa lalu untuk membentuk masa depan dengan lebih sadar. Dan yang terpenting, ini adalah alat yang mendemokratisasikan imajinasi—setiap warga, terlepas dari latar belakang pendidikan atau ekonomi, sekarang bisa “melihat” alternatif dan berpartisipasi dalam percakapan tentang masa depan bersama.
Mungkin itulah sumbangan terbesar AR untuk konservasi: bukan teknologi untuk melarikan diri dari realitas, tetapi teknologi untuk melihat realitas dengan lebih utuh—dengan lapisan waktu, kemungkinan, dan konsekuensi yang biasanya tersembunyi dari pandangan kita. Dalam dunia di mana keputusan pembangunan sering diambil berdasarkan spreadsheet dan proyeksi abstrak, AR memberikan sesuatu yang lebih manusiawi: kemampuan untuk melihat dengan mata kepala sendiri, dan memutuskan dengan hati.