Kita terus memompa karbon dioksida ke atmosfer. Para ilmuwan sepakat bahwa kita harus berhenti, tetapi juga harus mulaiĀ menyedotnya kembali. Inilah yang dilakukan teknologi carbon capture atau penangkapan karbon. Ada dua jenis utama: point-source capture dan direct air capture (DAC). Point-source capture menangkap CO2 langsung dari cerobong asap pabrik atau pembangkit listrik. Ini lebih mudah karena konsentrasi CO2-nya tinggi. DAC, sebaliknya, menyedot udara biasa yang konsentrasi CO2-nya sangat rendah (0,04%) dan memisahkan CO2-nya. Ini jauh lebih sulit dan mahal. Perusahaan seperti Climeworks di Swiss dan Carbon Engineering di Kanada sudah membangun fasilitas DAC. CO2 yang ditangkap bisa disimpan jauh di bawah tanah (disuntikkan ke formasi batuan) atau digunakan untuk membuat bahan bakar sintetis, plastik, atau bahkan gelembung minuman bersoda. Masalah terbesarnya adalah biaya dan energi. Menyedot CO2 dari udara membutuhkan energi yang sangat besar. Jika energi itu berasal dari batu bara, percuma saja. Selain itu, untuk benar-benar berdampak pada iklim global, kita butuh ribuan fasilitas DAC, bukan puluhan. Banyak aktivis lingkungan khawatir teknologi ini hanya menjadi “plasebo” yang membuat perusahaan dan pemerintah terus membakar bahan bakar fosil dengan alasan “nanti juga bisa disedot”. Padahal, solusi utama tetaplah mengurangi emisi, bukan menyedot setelah terlanjur bocor.
Related Posts
Terapi VR untuk Fobia Sosial 2026: Hadapi Kecemasan dengan NPC Ber-Kecerdasan Buatan Tingkat Manusia
- admin
- Februari 2, 2026
- 1 min read
- 0
Wearable Diagnostics: Panduan Praktis untuk Pemula dan Profesional 2026-2027
- admin
- Maret 15, 2026
- 4 min read
- 0
# Belajar Proses Peer Review yang Efektif: Dari Dasar hingga Mahir
- admin
- Februari 15, 2026
- 2 min read
- 0