Pengembangan obat baru dan terapi untuk penyakit seperti kanker atau gangguan genetik seringkali terhambat karena kurangnya model jaringan manusia yang akurat untuk pengujian. Model hewan tidak selalu mewakili respons manusia, dan uji klinis pada pasien berisiko tinggi. Tahun 2026, bio-printing 3D jaringan manusia fungsional menjadi platform revolusioner untuk uji klinis in vitro dan pengobatan personalisasi di Indonesia. Teknologi ini menggunakan bio-printer presisi tinggi yang bekerja layaknya printer 3D, namun alih-alih plastik, ia menyemprotkan bio-ink. Bio-ink ini adalah bahan hidrogel yang mengandung sel punca mesenkimal (MSC) yang diambil dari sumsum tulang atau lemak pasien, serta faktor pertumbuhan dan bahan pendukung ekstraseluler. Printer dapat menempatkan sel-sel hidup lapis demi lapis untuk membentuk struktur mikro 3D yang meniru organ tertentu, seperti mini-liver (hepatosit), mini-heart (kardiomiosit), atau bahkan tumor padat. “Organoid” yang dicetak ini kemudian dikultur dalam bioreaktor yang mensimulasikan lingkungan tubuh. Untuk keperluan pengujian obat, peneliti dari Eijkman Institute atau RSCM dapat membuat organoid dari sel pasien kanker, lalu mengujikan berbagai kombinasi kemoterapi untuk melihat mana yang paling efektif dan paling sedikit efek sampingnya pada jaringan sehat pasien tersebut—sebuah langkah menuju oncology precision medicine. Untuk rekayasa jaringan, teknologi ini menuju pada pencetakan cangkok kulit (skin graft) untuk korban luka bakar atau tulang rawan (cartilage) untuk perbaikan sendi, menggunakan sel pasien sendiri sehingga menghindari penolakan imun. Tantangan ilmiah dan teknisnya sangat besar: menciptakan vaskularisasi (pembuluh darah) dalam jaringan yang dicetak, mencapai kematangan seluler yang tepat, dan skalabilitas. Namun, dengan dukungan Kementerian Kesehatan dan investasi dalam biomanufaktur, Indonesia mulai membangun kapasitas di bidang bioteknologi transformatif ini, yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada pengujian hewan, mempercepat penemuan obat, dan menawarkan terapi regeneratif yang disesuaikan.
Related Posts
Bisnis: Model “Hardware-as-a-Service” (HaaS) untuk Perangkat Medis dan Konsumen Premium
- admin
- Januari 27, 2026
- 1 min read
- 0