Dengan ledakan data global, teknologi penyimpanan konvensional (hard disk, tape) mulai mencapai batas fisik dan keberlanjutannya. Penyimpanan data dalam DNA muncul sebagai solusi revolusioner di 2026. Satu gram DNA secara teoritis dapat menyimpan 215 petabyte (215 juta gigabyte) data dan bertahan selama ribuan tahun dalam kondisi yang tepat.
Prosesnya melibatkan pengkodean data digital (0 dan 1) menjadi urutan basa DNA (A, T, C, G), yang kemudian disintesis (ditulis) secara kimiawi. Untuk membacanya, DNA di-sequence kembali dan diterjemahkan ke data digital. Di 2026, teknologi ini akan berkembang dari proyek riset menjadi arsip jangka panjang untuk institusi seperti perpustakaan nasional, arsip film sejarah, atau data iklim. Manfaatnya adalah kepadatan yang tak tertandingi dan daya tahan. Kendala besar adalah biaya sintesis dan sequencing yang masih sangat tinggi, serta kecepatan baca/tulis yang lambat. Perusahaan seperti Catalog DNA, Twist Bioscience, dan Microsoft (Project Silica) adalah pionir di bidang ini.