Terobosan dalam teknologi kesehatan neuro-rehabilitasi hadir di Indonesia tahun 2026 dengan integrasi Brain-Computer Interface (BCI) yang terjangkau ke dalam layanan pemulihan pasca-stroke di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. Sistem ini terdiri dari headset EEG dengan elektroda kering yang mudah dipasang, dikombinasikan dengan kacamata realitas virtual (VR). Pasien yang mengalami kelumpuhan sebagian diminta untuk membayangkan menggerakkan tangan atau kaki mereka yang lumpuh. Headset BCI akan menangkap sinyal aktivitas saraf dari korteks motorik otak. Sinyal ini, meski lemah, kemudian diperkuat dan diterjemahkan oleh perangkat lunak. Hasil terjemahan ini langsung diumpan-balik (neurofeedback) kepada pasien dalam lingkungan VR yang imersif. Misalnya, niat untuk mengepal tangan akan membuat tangan virtual di layar VR bergerak, atau menggerakkan bola dengan kekuatan pikiran. Teknik neurofeedback ini menciptakan siklus reward yang kuat bagi otak, merangsang neuroplastisitas—kemampuan otak untuk membentuk koneksi saraf baru—dan mempercepat proses pemulihan. Teknologi ini membuat terapi menjadi lebih menarik, terukur, dan memotivasi pasien. Dengan program subsidi pemerintah, perangkat yang sebelumnya mahal mulai dapat diadopsi oleh rumah sakit daerah dan klinik rehabilitasi, mendemokratisasikan akses terhadap terapi canggih dan membawa harapan baru bagi jutaan penyintas stroke di Indonesia untuk mendapatkan kemandirian mereka kembali.
Related Posts
Terapi VR untuk Fobia Sosial 2026: Hadapi Kecemasan dengan NPC Ber-Kecerdasan Buatan Tingkat Manusia
- admin
- Februari 2, 2026
- 1 min read
- 0
Kurator Singularitas: Memetakan & Membantu Bisnis Menghadapi Titik di Mana AI Melampaui Pemahaman Manusia
- admin
- Januari 30, 2026
- 2 min read
- 0
Gastronomi Forensik – Makanan sebagai Alat Investigasi dan Rekonstruksi Sejarah
- admin
- Januari 27, 2026
- 1 min read
- 0