Guna mengatasi gunungan sampah plastik sekaligus mengurangi impor BBM jenis tertentu, teknologi pirolisis katalitik skala kecil semakin marak di kota-kota Indonesia pada 2026. Teknologi ini memanaskan sampah plastik (terutama jenis poliolefin seperti PP, PE, PS) tanpa oksigen pada suhu 300-500°C, sehingga memutus rantai polimer panjang menjadi molekul hidrokarbon yang lebih pendek. Dengan penambahan katalis buatan lokal (seperti zeolit alam), proses menjadi lebih efisien dan selektif, menghasilkan lebih banyak fraksi bahan bakar cair.
Unit pirolisis yang dikembangkan berukuran kontainer dapat dipasang di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Sampah plastik yang telah dipilah dimasukkan ke dalam reaktor. Outputnya adalah minyak pirolisis yang dapat disuling lebih lanjut menjadi diesel, bensin, atau minyak tanah, serta gas yang dapat digunakan kembali untuk memanaskan reaktor. Satu ton sampah plastik dapat menghasilkan sekitar 600-800 liter minyak pirolisis. Tantangan teknologi ini adalah pengendalian emisi gas buang, pengelolaan residu karbon, dan kebutuhan pra-pemilahan plastik yang ketat (plastik PVC atau PET dapat merusak proses dan katalis).
Meski bukan solusi utama untuk masalah plastik (karena tetap menggunakan pendekatan end-of-pipe dan menghasilkan emisi karbon), teknologi ini menawarkan nilai ekonomi dari sampah yang sulit terurai. Ia menciptakan ekonomi sirkular energi lokal, mengurangi volume plastik di TPA, dan menyediakan sumber energi alternatif untuk komunitas atau industri kecil, sekaligus meningkatkan kesadaran akan nilai yang terbuang dalam tumpukan sampah.