Platform “Kreasi AI” Lokal untuk Musik dan Konten: Melatih Model pada Dataset Gamelan, Dangdut, dan Bahasa Daerah

Pada 2026, gelombang generative AI untuk konten (musik, suara, video) akan mencapai Indonesia. Namun, ketergantungan pada model Barat (seperti OpenAI’s Jukebox) menghasilkan konten yang terasa “asing” secara kultural. Peluang besar adalah pembuatan platform “Kreasi AI” lokal yang dilatih khusus pada dataset budaya Indonesia.

Bayangkan model AI yang bisa menghasilkan: melodi baru dalam laras pelog atau slendro (skala gamelan), aransemen dangdut koplo dengan synth modern, atau narasi audio dalam bahasa Jawa, Sunda, atau Bugis dengan intonasi yang natural. Model ini dilatih pada dataset eksklusif: rekaman arsip RRI, lagu daerah, sampel instrumen tradisional, dan pidato dalam berbagai bahasa daerah.

Platform ini akan menyediakan API dan interface sederhana untuk digunakan oleh: Musisi mencari inspirasi atau backing track, kreator konten yang butuh soundtrack orisinil tanpa masalah royalti, pengembang game yang butuh suara lingkungan (soundscape) hutan Kalimantan atau suasana pasar tradisional, atau pelestari budaya yang ingin membuat konten edukasi interaktif.

Tantangan utama adalah hak kekayaan intelektual (HKI) atas data pelatihan. Perlu model bisnis yang adil, mungkin dengan sistem revenue sharing untuk seniman/sumber asli yang datanya digunakan, atau lisensi komunal yang dikelola oleh asosiasi seniman.

Pada 2026, platform semacam ini akan memicu gelombang baru ekspresi kreatif digital Indonesia. Alih-alih meniru budaya pop Barat, anak muda akan menggunakan AI untuk mengeksplorasi dan menginovasi warisan budayanya sendiri—menciptakan genre musik, gaya seni, dan format konten yang benar-benar unik Indonesia, siap untuk diekspor ke pasar global.