Daerah kering seperti Nusa Tenggara menghadapi tantangan air untuk pertanian. Hidrogel cerdas—material polimer yang bisa menyerap air ratusan kali beratnya dan melepaskannya secara terkontrol—menjadi solusi. Pada 2026, generasi baru hidrogel dengan responsiveness environmental dikembangkan.
Hidrogel ini dibuat dari bahan lokal: selulosa dari tanaman kering (seperti alang-alang) dan polimer superabsorben yang diproduksi dari bahan baku dalam negeri. Yang membuatnya “cerdas” adalah modifikasi kimia sehingga hidrogel merespons stimulus lingkungan: melepaskan air hanya saat suhu tanah mencapai titik tertentu (siang hari), atau saat konsentrasi garam tanah rendah (menghindari salinisasi).
Aplikasinya: hidrogel dicampur dengan tanah di area perakaran tanaman. Saat hujan atau irigasi, hidrogel menyerap air berlebih. Ketika tanah mulai kering dan suhu naik, hidrogel secara bertahap melepaskan air. Sensor mikro tertanam dalam hidrogel mengirim data keamanan air ke aplikasi petani.
Untuk tanaman bernilai tinggi di daerah kering seperti jambu mete, sorgum, atau kurma, sistem ini meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan hingga 70%. Yang lebih inovatif, hidrogel juga bisa diisi dengan pupuk slow-release atau mikroba bermanfaat yang dilepaskan bersamaan dengan air.
Tantangan adalah biaya produksi dan durability—hidrogel harus bertahan beberapa musim tanam. Riset fokus pada hidrogel yang bisa terurai secara alami setelah masa pakai, atau bisa “di-recharge” dengan penambahan polimer baru. Teknologi ini cocok dengan pertanian regeneratif—mengembalikan kesuburan tanah kering sambil mengoptimalkan penggunaan air yang sangat terbatas. Pada 2026, hidrogel cerdas menjadi teknologi tepat guna yang mengubah lahan marginal menjadi produktif.