Di dunia yang dipenuhi dengan pelacakan iklan, pengenalan wajah, dan pengumpulan data omnipresent, muncul gerakan “adversarial creativity”—menggunakan seni dan teknologi untuk secara aktif mengganggu, menipu, atau membingungkan sistem pengawasan dan pelacakan. Ini bukan hacktivism yang merusak, tetapi strategi kreatif untuk menegaskan privasi dan otonomi di ruang digital. Bagi seniman digital, creative coder, dan startup di bidang creative tech, ini adalah niche yang menggabungkan aktivisme, seni, dan teknologi dengan cara yang unik.
Contoh teknik “jamming” kreatif meliputi:
- CV Dazzle: Gaya rias wajah dan potongan rambut yang dirancang khusus untuk mengelabui algoritma pengenalan wajah dengan mengacaukan deteksi pola wajah secara geometris.
- Adversarial Patches: Stiker atau corak yang ditempelkan pada pakaian atau aksesori yang, ketika tertangkap kamera, dapat menyebabkan sistem computer vision salah klasifikasi (misalnya, membuat seseorang “tidak terlihat” atau diklasifikasikan sebagai objek lain).
- Noise-generating Wearables: Perangkat seperti “URME Surveillance” prosthetics (topeng wajah dengan wajah orang lain) atau kacamata dengan LED infra-red yang membutakan kamera pengintai.
- Data Poisining: Secara aktif memberikan data palsu atau tidak berarti ke tracker online untuk mencemari profil data yang dibangun oleh pengiklan.
Startup atau kolektif seni seperti The Glimpse Group telah menciptakan instalasi interaktif yang menggunakan teknik ini untuk meningkatkan kesadaran akan pengawasan. Ada juga pasar untuk “privacy-enhancing fashion”, seperti pakaian dengan pola khusus yang membuat pemakainya sulit dilacak oleh sistem pengawasan toko ritel berbasis AI.
Dari perspektif bisnis, ini adalah pasar niche tetapi dengan komunitas yang sangat loyal. Model monetisasi dapat berupa:
- Selling Tools/ Kits: Menjual stiker anti-pengenalan wajah, pola digital untuk dicetak pada pakaian, atau kode open source untuk generator noise.
- Experiential Art & Workshops: Menyelenggarakan pameran atau workshop tentang cara melindungi privasi digital melalui seni.
- Consulting for Privacy-Conscious Brands: Membantu merek yang ingin menunjukkan komitmen pada privasi dengan menerapkan elemen desain “anti-tracking” yang kreatif pada produk atau platform mereka.
Tantangan etika dan hukum jelas: di mana batas antara “creative jamming” dan penghalangan sistem keamanan yang sah? Namun, dalam konteks melawan pelacakan iklan invasif atau pengawasan publik yang berlebihan, banyak yang melihatnya sebagai bentuk “civil disobedience digital” yang sah.
Untuk kreator di Indonesia, peluangnya terletak pada konteks lokal. Misalnya, merancang batik dengan pola yang mengganggu pengenalan wajah, atau membuat filter media sosial yang secara kreatif melindungi identitas pengguna dalam unggahan protes. Ini adalah cara untuk memadukan warisan budaya dengan literasi digital kontemporer.
Teknologi “jamming” kreatif adalah pengingat bahwa di antara perlombaan senjata antara pengumpul data dan pelindung privasi, ada ruang untuk kecerdikan, keindahan, dan perlawanan yang bermartabat. Ini adalah panggilan bagi para kreator untuk tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga membentuknya dan menantang implikasinya.
Sumber Bacaan:
- CV Dazzle. Camouflage from Face Detection. https://cvdazzle.com/
- Adversarial Fashion. https://adversarialfashion.com/
- EFF (Electronic Frontier Foundation). Surveillance Self-Defense. https://ssd.eff.org/