“Cybernetic Anthropology”: Mempelajari Budaya dan Masyarakat Melalui Jejak Digital Mereka yang Terbentuk Algoritma

Antropologi tradisional mempelajari budaya melalui observasi partisipan dan wawancara. Cybernetic anthropology adalah bidang baru yang mempelajari masyarakat manusia dengan menganalisis jejak digital masif yang mereka tinggalkan—dan bagaimana jejak itu dibentuk oleh algoritma platform. Ini adalah studi tentang budaya algoritmik: bagaimana rekomendasi TikTok membentuk tarian global, bagaimana timeline Twitter membentuk wacana politik, atau bagaimana algoritma e-commerce memengaruhi pola konsumsi dan identitas. Bagi startup yang ingin memahami pasar, tren, atau dampak sosial produk mereka secara mendalam, pendekatan ini sangat berharga.

Metodenya menggabungkan etnografi digital (mengamati komunitas online) dengan analisis data komputasi skala besar (scraping, network analysis, NLP). Peneliti tidak hanya melihat apa yang diposting orang, tetapi juga bagaimana platform mendorong, mengurasi, dan memoderasi konten tersebut, sehingga menciptakan “lingkungan budaya” yang unik.

Contoh wawasan yang dapat dihasilkan:

  • Peta “Moral Landscapes”: Melacak bagaimana konsep seperti “keadilan” atau “kebebasan” didefinisikan dan diperdebatkan secara berbeda di berbagai subkultur online.
  • Genealogy of Memes: Memetakan evolusi dan mutasi meme, mengungkapkan bagaimana ide menyebar dan beradaptasi melintasi batas budaya.
  • Impact of Algorithmic Changes: Mempelajari bagaimana perubahan dalam algoritma rekomendasi YouTube atau Instagram secara dramatis mengubah perilaku kreator konten dan pola konsumsi audiens.

Startup dapat memanfaatkan pendekatan ini untuk consumer insight yang jauh lebih kaya daripada survei tradisional. Misalnya, sebuah merek mode dapat menganalisis bagaimana gaya pakaian tertentu disebarkan melalui jaringan influencer di platform visual seperti Pinterest, memahami peran algoritma dalam tren tersebut.

Selain itu, ada peluang untuk membangun platform analitik untuk cybernetic anthropology—menyediakan alat bagi peneliti, pemasar, atau pembuat kebijakan untuk memetakan dan memahami budaya algoritmik. Ini dapat mencakup visualisasi jaringan sosial, analisis tema percakapan, dan pelacakan penyebaran narasi.

Tantangan etika sangat besar: privasi, consent, dan potensi survei. Analisis ini harus dilakukan pada data agregat dan dianonimisasi, dengan rasa hormat yang mendalam terhadap subjek manusia di balik data titik tersebut.

Di Indonesia yang memiliki budaya digital yang sangat dinamis dan beragam, pendekatan cybernetic anthropology dapat mengungkapkan bagaimana platform global seperti TikTok atau WhatsApp berinteraksi dengan norma lokal, menciptakan bentuk budaya hibrida yang unik. Pemahaman ini sangat berharga bagi siapa pun yang ingin terlibat dengan pasar Indonesia secara bermakna.

Cybernetic anthropology mengakui bahwa kita tidak lagi hanya membentuk teknologi; teknologi juga membentuk kita. Dengan mempelajari lingkaran umpan balik ini, kita dapat memahami dunia kontemporer dengan lebih baik dan semoga membangun sistem yang lebih mencerminkan nilai-nilai manusia yang kita hargai.


Sumber Bacaan:

  1. UC Irvine, Connected Learning Lab. Digital Ethnographyhttps://clallab.uci.edu/
  2. Book: The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media by José van Dijck.
  3. Computational Social Science Lab. https://cssl.yale.edu/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *