Kematian mungkin satu-satunya kepastian, tetapi jejak digital kita mulai menantang batasan itu. Kecerdasan buatan generatif kini memungkinkan penciptaan “ahli waris digital” atau digital legacy avatars. Avatar ini bukan sekadar rekaman statis, tetapi simulasi interaktif dari kepribadian, pengetahuan, dan cara bicara seseorang. Dibangun dari gudang data pribadi yang luas—seperti email, pesan teks, posting media sosial, foto, video, dan bahkan rekaman suara—model AI dapat dilatih untuk meniru pola pikir dan gaya komunikasi individu. Keturunan di masa depan mungkin dapat “berbicara” dengan nenek moyang mereka, bertanya tentang sejarah keluarga, atau sekadar mendengar cerita dengan suara dan ekspresi yang akrab. Ini membuka dimensi baru dalam pelestarian sejarah pribadi dan budaya.
Namun, teknologi keabadian virtual ini membawa pertanyaan filosofis dan etika yang sangat dalam. Apa artinya menjadi “diri sendiri”? Apakah chatbot yang meniru kita adalah perpanjangan identitas atau sekadar ilusi yang canggih? Bagaimana dengan izin dan hak atas data pribadi orang yang telah meninggal? Selain itu, potensi gangguan psikologis bagi mereka yang berduka bisa sangat besar—apakah interaksi dengan simulasi menghambat proses penerimaan? Teknologi ini memaksa kita untuk memikirkan kembali warisan, duka, dan hubungan kita dengan kematian di era di mana data kita mungkin lebih abadi daripada tubuh biologis kita.