Manusia semakin hidup di dua ekosistem sekaligus: fisik dan digital. Di 2026, muncul disiplin akademik baru: Psikologi Ekologi Digital, yang secara serius mempelajari bagaimana karakteristik “lingkungan” digital (platform media sosial, metaverse, game online) memengaruhi kognisi, emosi, dan perilaku, serta interaksinya dengan ruang fisik.
Artikel ini akan menguraikan objek studinya: Bagaimana “polusi perhatian” dari notifikasi berdampak pada stres kronis? Bagaimana arsitektur ruang virtual (langit-langit tinggi vs. rendah, warna cahaya) memengaruhi kreativitas kolaboratif? Bagaimana “iklim sosial” dalam komunitas online membentuk identitas kelompok?
Metodologinya mengintegrasikan analisis data pasif dari aplikasi, pengukuran biomarker (cortisol, detak jantung), dan etnografi digital. Lulusan dari program ini akan menjadi “Arsitek Pengalaman Digital yang Beretika”, mendesain platform yang tidak hanya menarik, tetapi juga mendukung kesehatan mental dan kohesi sosial. Jurnal seperti “Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking” menjadi semakin utama. Ini adalah respons akademis terhadap kebutuhan mendesak untuk memahami dan mendesain dunia digital yang manusiawi.