Koleksi naskah dan dokumen bersejarah Indonesia menghadapi musuh yang tidak pernah tidur: air, api, jamur, dan serangga. Banjir bandang di museum daerah, kebocoran atap penyimpanan, serangan rayap di pesantren tua, atau kebakaran seperti yang terjadi di Museum Nasional pada 2023—semua ini menghancurkan warisan dokumenter yang tidak tergantikan dalam hitungan jam. Metode konservasi konvensional (pengeringan manual, laminasi, fumigasi kimia) seringkali tidak memadai untuk kerusakan skala besar. Lembaran naskah yang basah kuyup akan menggumpal dan tidak bisa dipisahkan. Kertas yang terbakar rapuh dan hancur saat disentuh. Koleksi yang diserang jamur akan terus membusuk meskipun telah diolesi fungisida. Diperlukan lompatan teknologi dalam ilmu konservasi untuk menyelamatkan apa yang tersisa.
Visi Proyek KERTAS-PUSAKA adalah mengembangkan pusat konservasi naskah darurat bergerak yang dilengkapi dengan teknologi mutakhir untuk merestorasi naskah dan dokumen bersejarah yang rusak akibat bencana, serta protokol tanggap darurat yang dapat diaktifkan dalam waktu 24 jam.
Komponen 1: Liofilisasi (Freeze-Drying) Skala Besar. Ketika naskah basah, tantangan terbesar adalah mengeringkan tanpa merusak struktur kertas. Pengeringan udara menyebabkan kertas mengkerut, tinta luntur, dan lembaran saling menempel. Liofilisasi adalah solusinya:
- Naskah basah segera dibekukan pada suhu -40°C. Air berubah menjadi es kristal.
- Naskah beku dimasukkan ke ruang vakum. Tekanan diturunkan sehingga es menyublim langsung menjadi uap, tanpa melalui fase cair.
- Hasilnya: naskah kering dengan kerusakan minimal, tanpa kerutan, tanpa pelebaran tinta.
Proyek KERTAS-PUSAKA mengembangkan unit liofilisasi kontainer yang dapat dipindahkan ke lokasi bencana. Kapasitas: 500-1.000 lembar per siklus (24 jam).
Komponen 2: Dekontaminasi Jamur dengan Plasma Dingin. Naskah yang terkena banjir hampir pasti akan ditumbuhi jamur dalam 48-72 jam. Jamur tidak hanya merusak estetika (noda), tetapi juga mencerna selulosa kertas. Fumigasi kimia (etilen oksida, formaldehida) efektif tetapi sangat toksik bagi operator dan meninggalkan residu. Alternatifnya adalah plasma dingin (cold plasma) :
- Gas (udara, argon, atau nitrogen) dialiri listrik tegangan tinggi, menghasilkan spesies reaktif (ozon, radikal hidroksil, elektron) pada suhu ruang.
- Spesies reaktif ini membunuh spora jamur dan bakteri dalam hitungan detik hingga menit.
- Tidak meninggalkan residu, aman untuk operator dan lingkungan, tidak merusak kertas atau tinta.
Proyek ini mengembangkan reaktor plasma dingin portabel yang dapat menampung naskah berukuran A3.
Komponen 3: Enkapsulasi Nanopartikel untuk Kertas Rapuh. Naskah kuno yang sudah rapuh akibat usia atau kerusakan termal (kebakaran) tidak dapat langsung direstorasi dengan metode konvensional. Setiap sentuhan dapat menyebabkan kehancuran. Teknologi enkapsulasi nanopartikel menawarkan solusi:
- Kertas yang rapuh disemprot dengan larutan nanopartikel selulosa atau kitosan.
- Partikel berukuran nano ini akan mengisi pori-pori dan merekatkan serat-serat yang putus.
- Setelah kering, terbentuk lapisan pelindung transparan yang memperkuat kertas secara signifikan, tanpa mengubah penampilan atau fleksibilitas.
Formulasi nanopartikel dikembangkan khusus untuk kertas tradisional (daluang, lontar, nipah) yang memiliki karakteristik serat berbeda dengan kertas modern.
Komponen 4: Sistem Dokumentasi dan Prioritas Darurat. Ketika bencana terjadi, tidak semua naskah dapat diselamatkan sekaligus. Diperlukan sistem triase:
- Database nasional koleksi berharga: setiap museum, pesantren, griya, dan perpustakaan mendaftarkan koleksi unggulan mereka ke dalam sistem. Data meliputi foto, deskripsi, lokasi, dan nilai historis.
- Algoritma prioritas berbasis skor: nilai sejarah (tingkat kelangkaan, usia), nilai budaya (makna bagi komunitas), dan kondisi fisik (kerentanan).
- Ketika bencana terjadi, tim konservasi darurat dapat mengakses database ini dan langsung mengetahui koleksi mana yang harus diselamatkan pertama kali.
Dampak KERTAS-PUSAKA bersifat preservasi identitas. Dampak langsung: menyelamatkan ribuan naskah dan dokumen dari kepunahan total. Dampak jangka menengah: membangun kapasitas nasional dalam konservasi naskah. Selama ini, restorasi naskah kuno sering harus dikirim ke Belanda atau Jerman. Kini dapat dilakukan di dalam negeri. Dampak budaya: naskah-naskah yang telah dipulihkan dapat dikembalikan ke komunitas asalnya dan dibaca kembali oleh generasi baru. Dampak ilmiah: teknologi yang dikembangkan (liofilisasi, plasma dingin, nanopartikel) dapat diterapkan untuk konservasi arsip-arsip pemerintahan yang juga rentan bencana. KERTAS-PUSAKA adalah ICU untuk memori bangsa, menyadarkan kita bahwa melestarikan masa lalu adalah syarat untuk membangun masa depan yang berakar.