Aksesibilitas digital telah berkembang dari fokus pada disabilitas fisik (screen reader, kontras warna) menuju pemahaman yang lebih dalam tentang neurodiversity—variasi alami dalam fungsi otak manusia seperti autisme, ADHD, disleksia, dan kecemasan. Bagi startup dan perusahaan tech, ini bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi peluang pasar yang besar (diperkirakan 15-20% populasi global secara neurodivergent) dan sumber inovasi desain yang dapat meningkatkan pengalaman bagi semua pengguna. Bagaimana merancang aplikasi yang tidak hanya dapat diakses, tetapi benar-benar ramah dan memberdayakan bagi pikiran yang bekerja dengan cara berbeda?
Prinsip desain neuroinclusive bergerak melampaui checklist WCAG (Web Content Accessibility Guidelines). Ia masuk ke ranah predictability, control, dan sensory comfort. Seorang pengguna dengan autisme mungkin sangat terdistraksi oleh animasi yang tak terduga atau transisi halaman yang tiba-tiba. Seorang pengguna dengan ADHD mungkin kesulitan dengan alur tugas yang panjang tanpa umpan balik progresif yang jelas. Desain yang baik untuk mereka sering kali juga baik untuk semua: mengurangi kelelahan kognitif dan meningkatkan fokus.
Beberapa pola desain neuroinclusive yang inovatif meliputi:
- “Focus Mode” yang Kontekstual: Alih-alih sekadar tombol untuk mematikan animasi, sistem dapat secara otomatis mendeteksi saat pengguna sedang mengerjakan tugas kompleks (misalnya mengisi formulir panjang) dan menyederhanakan UI-nya, menyembunyikan elemen navigasi yang tidak relevan, dan mengubah skema warna menjadi monokromatik yang menenangkan.
- Kontrol Kecepatan Input yang Dinamis: Memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan kecepatan timeout sesi, kecepatan auto-advance pada carousel, atau bahkan kecepatan scroll. Ini sangat membantu bagi pengguna dengan gangguan koordinasi motorik atau pemrosesan yang lebih lambat.
- Multiple Modality dengan Konsistensi: Menyajikan informasi dalam beberapa cara (teks, ikon, audio pendek) secara bersamaan dengan pola yang konsisten. Misalnya, notifikasi selalu memiliki struktur yang sama: ikon + teks pendek + warna bermakna. Konsistensi ini mengurangi kebutuhan untuk “mempelajari ulang” antarmuka setiap kali.
- “Preference Dashboard” yang Kuat: Memberikan kendali granular kepada pengguna atas pengalaman sensorik aplikasi: menonaktifkan autoplay video, memilih jenis font khusus (seperti OpenDyslexic), mengatur tingkat kontras, hingga memilih skema warna pribadi. Dashboard ini harus mudah ditemukan dan diatur, bukan tersembunyi di dalam menu setting yang dalam.
Startup seperti Brainly telah bereksperimen dengan “cognitive load meter” yang memberi sinyal visual sederhana tentang kompleksitas suatu halaman atau tugas sebelum pengguna memasukinya. Perusahaan game Microsoft dengan Xbox Adaptive Controller adalah contoh brilian hardware, tetapi prinsipnya dapat diterapkan ke software: desain modular di mana pengguna dapat menyusun kontrol sesuai kebutuhan kognitif mereka.
Mengimplementasikan ini membutuhkan perubahan proses: melibatkan neurodivergent individuals secara langsung dalam pengujian pengguna, bukan sebagai afterthought. Membentuk panel desain inklusif dan menggunakan alat seperti simulator disleksia atau ADHD selama fase prototyping. Hasilnya tidak hanya aplikasi yang lebih manusiawi, tetapi juga produk yang lebih kuat, mudah digunakan, dan kompetitif.
Desain untuk neurodiversity adalah frontier berikutnya dari inovasi produk digital. Ia mengakui bahwa tidak ada yang namanya “pengguna rata-rata”. Dengan merangkul spektrum pengalaman kognitif yang luas, kita dapat menciptakan teknologi yang benar-benar melayani manusia, dalam semua keragaman menakjubkannya.
Sumber Bacaan:
- The Neurodiversity Design System. Principles. https://neurodiversity.design/
- W3C. Cognitive Accessibility at W3C. https://www.w3.org/WAI/cognitive/
- Harvard Business Review. (2023). Designing for Neurodiversity Can Help You Reach More Customers. https://hbr.org/2023/04/designing-for-neurodiversity-can-help-you-reach-more-customers