Tahun 2026 menandai ledakan Edge Computing di Indonesia, sebagai solusi atas kebutuhan akan pemrosesan data berkecepatan ultra-tinggi dan rendah latensi. Dengan lonjakan perangkat IoT, sensor industri, dan kendaraan otonom, mengirim semua data ke cloud pusat menjadi tidak efisien. Edge membawa kemampuan komputasi dan penyimpanan mendekati sumber data.
Di pabrik-pabrik, sensor pada mesin produksi dapat memproses data secara real-time untuk mendeteksi anomali dan mencegah downtime, tanpa mengandalkan koneksi internet yang stabil. Di kota pintar, kamera lalu lintas dengan chip AI dapat langsung menganalisis kepadatan dan mengatur sinyal lampu lalu lintas, mengurangi kemacetan secara instan. Di sektor pertanian, drone yang melakukan pemetaan lahan dapat memproses citra di udara untuk langsung menyemprot pestisida hanya di area yang terserang hama.
Tren ini didukung oleh penyedia layanan lokal yang membangun micro-data centers di berbagai wilayah. Tantangan utama adalah standarisasi dan keamanan, namun Edge Computing menjanjikan revolusi dalam efisiensi operasional dan membuka jalan bagi aplikasi real-time yang sebelumnya tidak mungkin di Indonesia.