Tahun 2026 menyaksikan perkembangan ekologi memori perkotaan sebagai disiplin yang mempelajari kota bukan sebagai kumpulan bangunan, tetapi sebagai organisme kolektif yang memiliki proses mengingat dan melupakan. Para ahli menganalisis bagaimana infrastruktur, monumen, tata ruang, dan bahkan pola lalu lintas membentuk dan merefleksikan ingatan kolektif penduduknya. Mereka memetakan “gangguan memori perkotaan” di mana pembangunan yang cepat menghapus lapisan sejarah, dan “hipertrofi memori” di mana terlalu banyak monumen menciptakan beban sejarah yang tidak dapat dikelola.
Aplikasinya praktis: perencana kota menggunakan audit memori sebelum proyek pembangunan, memastikan ruang baru mengintegrasikan, bukan menghapus, lapisan sejarah yang ada. Sistem “infrastruktur memori responsif” menggunakan proyeksi AR untuk mengungkapkan sejarah suatu tempat sesuai permintaan, memungkinkan ingatan fisik dan digital untuk hidup berdampingan. Di Kota Mexico City, sebuah sistem seperti ini memungkinkan warga untuk melihat lapisan sejarah Aztec, kolonial, dan modern secara bergantian di alun-alun utama. Ekologi memori perkotaan mengajarkan bahwa kota yang sehat membutuhkan keseimbangan antara pengingat dan pelupa, antara melestarikan dan memberi ruang untuk yang baru.