Setelah puluhan tahun disebut “selalu 30 tahun lagi,” teknologi fusi nuklir akhirnya menunjukkan kemajuan konkret menuju kelayakan komersial di 2026. Terobosan “ignition” 2022 di National Ignition Facility (AS), di mana reaksi fusi menghasilkan lebih banyak energi daripada energi laser yang ditembakkan, menjadi katalis utama. Tahun 2026 akan fokus pada skalabilitas, pengulangan, dan peningkatan gain energi dalam eksperimen tersebut.
Perusahaan startup seperti Commonwealth Fusion Systems (CFS) dan Helion Energy diprediksi mencapai milestone kritis. CFS dengan magnet superkonduktor suhu tinggi-nya bertujuan menyelesaikan prototipe reaktor SPARC, sementara Helion mengejar pendekatan langsung konversi energi listrik. Manfaat energi fusi 2026 bukan lagi sekadar mimpi: sumber energi bersih hampir tanpa limbah radioaktif jangka panjang, bahan bakar deuterium dari air laut yang melimpah, dan potensi pasokan listrik stabil yang dapat mendukung elektrifikasi massal. Meski belum masuk grid, kemajuan tahun ini akan menarik investasi miliaran dolar dan mempercepat roadmap menuju demonstrasi pembangkit listrik fusi pertama di dunia.