Jakarta – Fashion bukan hanya soal gaya, tapi juga fungsi. Tahun 2026, teknologi wearable merambah ke pakaian itu sendiri.
Baju Berubah Warna
E-ink tidak hanya untuk e-reader. Kini diaplikasikan ke kain. Baju dengan e-ink bisa berubah warna dan pola sesuai perintah dari aplikasi di ponsel.
Anda punya satu baju putih, bisa diubah jadi motif batik untuk kondangan, motif loreng untuk hiking, atau warna merah untuk pesta. Cukup tap di ponsel.
Teknologi ini masih mahal (sekitar Rp 5 juta per baju), tapi untuk fashionista, ini investasi: satu baju bisa untuk seribu acara.
Baju Penyesuai Suhu
Kain termoregulasi menggunakan material PCM (phase change material) yang menyerap panas saat suhu naik, melepas saat suhu turun. Baju ini membuat tubuh tetap nyaman di suhu ekstrem.
Cocok untuk pekerja outdoor, atau turis yang bepergian ke negara dengan cuaca ekstrem. Atau untuk Indonesia: panas di luar, dingin di mal, baju menyesuaikan.
Baju dengan Sensor Kesehatan
Kain dengan serat konduktif bisa mendeteksi detak jantung, suhu tubuh, bahkan kadar keringat. Data dikirim ke ponsel untuk analisis kesehatan real-time.
Atlet bisa memonitor performa tanpa pakai gelang tambahan. Pasien jantung bisa dipantau 24 jam dengan baju yang nyaman.
Fashion Ramah Lingkungan
Kain dari bahan daur ulang: botol plastik, jaring ikan bekas, bahkan limbah kopi. Semakin populer karena konsumen peduli lingkungan.
Adidas dan Nike punya lini sepatu dari sampah laut. H&M punya koleksi dari kain daur ulang.
Tantangan: Daya
Baju pintar butuh daya. Baterai fleksibel tipis ditempel di dalam baju, bisa dicuci, dan diisi nirkabel saat Anda tidur. Teknologi ini masih berkembang, tapi 2026 sudah cukup matang untuk produk konsumen.
Masa Depan
Dalam 10 tahun, kita mungkin tidak punya lemari penuh baju, tapi beberapa baju pintar yang bisa dikonfigurasi. Hemat ruang, hemat sumber daya, dan tetap gaya.