Filsafat Informasi: Mendefinisikan Ulang Realitas di Era Ledakan Data dan Simulasi

Kita hidup di zaman di mana informasi bukan lagi sekadar representasi realitas; dalam banyak hal, ia telah menjadi realitas itu sendiri. Kehidupan sosial kita dimediasi oleh platform digital, pengetahuan ilmiah dibangun di atas gunungan data, dan ekonomi dunia digerakkan oleh aliran bit. Dalam konteks ini, Filsafat Informasi muncul sebagai bidang pemikiran kritis yang mendesak. Ia mempertanyakan sifat fundamental dari apa yang kita anggap sebagai “nyata” dan “benar” dalam ekosistem yang semakin didominasi oleh data, algoritma, dan simulasi.

Dari Representasi ke Konstitusi: Informasi sebagai Bahan Baku Realitas

Filsafat tradisional memperlakukan informasi sebagai sesuatu yang tentang dunia (representasi). Filsafat Informasi mengusulkan bahwa informasi adalah sesuatu yang membentuk dunia (konstitutif). Peta tidak hanya menggambarkan wilayah; ia membentuk cara kita memahami, menavigasi, dan akhirnya mengubah wilayah tersebut. Contohnya: skor kredit bukan hanya laporan tentang perilaku finansial seseorang; ia adalah entitas informasi yang secara aktif membentuk akses orang tersebut ke perumahan, pekerjaan, dan mobilitas sosial. Ia adalah realitas dengan konsekuensi material.

Pandangan ini menjadi lebih radikal dengan munculnya simulasi yang sangat akurat. Jika kita dapat membuat “digital twin” dari jantung manusia yang begitu tepat sehingga dapat memprediksi responsnya terhadap obat baru, di manakah “realitas” dari jantung tersebut? Apakah jantung biologis lebih “nyata” daripada model komputasinya jika keduanya menghasilkan prediksi yang sama? Ini mengarah pada pertanyaan yang diajukan oleh pemikir seperti Jean Baudrillard tentang simulacra: ketika tiruan menjadi begitu sempurna sehingga menggantikan yang asli.

Ontologi Data: Apa yang Ada di Dunia Digital?

Filsafat Barat telah lama memperdebatkan ontologi—studi tentang apa yang ada. Filsafat Informasi memerlukan ontologi baru untuk dunia digital. Pertimbangkan:

  • Apa status ontologis dari sebuah file? Ia bukan benda fisik (bit di hard drive bisa ada di lokasi yang berbeda), tapi juga bukan ide murni (ia memiliki konsekuensi kausal: ia dapat menyebabkan printer bekerja).
  • Apakah algoritma itu ada? Mereka adalah proses matematika, tetapi juga agen yang membuat keputusan yang mengubah dunia.
  • Bagaimana dengan jejak digital atau data pribadi? Mereka adalah “ekspresi informasi” dari diri kita. Apakah mereka adalah bagian dari “diri” kita? Jika data kita dicuri, apakah itu adalah bentuk pelanggaran metafisik, bukan hanya teknis?

Tidak ada jawaban mudah. Beberapa filsuf, seperti Luciano Floridi, mengusulkan ontologi informasi, di mana realitas dipandang sebagai strata yang terdiri dari dunia fisik, dunia biologis, dan dunia informasi yang saling berinteraksi. Dalam pandangan ini, kejahatan dunia maya atau peretasan data adalah kerusakan pada lapisan realitas informasi, sama seriusnya dengan kerusakan pada tubuh fisik.

Etika di Dunia yang Terinformasi: Otonomi, Agen, dan Tanggung Jawab

Ledakan informasi menciptakan dilema etika baru yang mendalam:

  1. Otonomi dan Agen dalam Sistem Informasi: Siapa yang bertanggung jawab ketika sistem AI yang kompleks membuat keputusan berbahaya? Apakah algoritma dapat menjadi “agen” moral? Jika informasi membentuk pilihan kita (melalui filter gelembung, rekomendasi yang dipersonalisasi), seberapa bebaskah kehendak kita yang sebenarnya?
  2. Hak atas Identitas Informasional: Kita memiliki hak atas tubuh dan properti fisik. Tetapi apakah kita memiliki hak atas data tentang diri kita sendiri? Apakah kita memiliki hak untuk menentukan narasi informasi yang membentuk diri digital kita? Konsep selfhood itu sendiri diperluas ke ranah informasi.
  3. Kebenaran, Pengetahuan, dan Epistemologi Digital: Bagaimana kita tahu apa yang benar dalam lingkungan informasi yang terfragmentasi dan termanipulasi? Algoritma platform media sosial tidak dirancang untuk mengoptimalkan kebenaran, tetapi keterlibatan. Ini menciptakan ekologi epistemik yang baru di mana perhatian, bukan akurasi, yang menjadi mata uang utamanya. Apakah “pengetahuan” masih berarti hal yang sama?

Masa Depan: Membangun Kebijaksanaan Informasional

Filsafat Informasi bukanlah latihan akademis yang abstrak. Ini adalah alat yang penting untuk membangun kebijaksanaan kolektif di Abad Informasi. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

  • Ketika kita membangun metaverse atau mensimulasikan planet, realitas seperti apa yang sedang kita ciptakan, dan untuk siapa?
  • Bagaimana kita mendesain sistem informasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga adil, manusiawi, dan mendukung kebenaran?
  • Apa artinya menjadi manusia dalam jaringan informasi yang padat di mana kecerdasan kita diperkuat (dan mungkin suatu hari nanti digantikan) oleh mesin?

Tantangan kita bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelimpahan tanpa makna. Filsafat Informasi menawarkan kompas untuk menavigasi banjir data ini—bukan dengan memberi kita lebih banyak fakta, tetapi dengan membantu kita memahami hakikat fakta itu sendiri. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa dunia yang kita bangun dengan bit dan byte adalah dunia yang tetap layak untuk ditinggali oleh makhluk yang terbuat dari daging dan kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *