Singapura – Lima tahun lalu, bank digital masih dianggap “bank kelas dua”. Hanya untuk anak muda, fitur terbatas, banyak error. Tahun 2026, bank digital sudah setara, bahkan unggul di beberapa layanan.
Tapi ancaman baru muncul: komputer kuantum yang bisa memecahkan enkripsi perbankan.
Bank Digital Menguasai Asia
Di Indonesia, Bank Jago, SeaBank, dan Blu (BCA Digital) tumbuh pesat. Mereka menawarkan bunga tabungan lebih tinggi (karena biaya operasional rendah), antarmuka lebih enak, dan fitur inovatif seperti tabung otomatis sesuai tujuan.
Bank konvensional mulai ketinggalan. BCA dan Mandiri merespons dengan aplikasi lebih baik, tapi birokrasi internal membuat inovasi lambat. Mereka akhirnya mengakuisisi startup fintech untuk mengejar ketertinggalan.
DeFi: Pinjam tanpa Bank
DeFi (Decentralized Finance) makin matang di 2026. Dengan blockchain, orang bisa meminjam dan meminjamkan uang tanpa bank sebagai perantara. Semua diatur smart contract.
Di negara dengan inflasi tinggi seperti Argentina dan Turki, DeFi jadi primadona. Orang menabung dalam dolar digital (stablecoin) untuk lindung nilai dari mata uang lokal yang anjlok.
Di Indonesia, masih terkendala regulasi. OJK waspada terhadap risiko pencucian uang. Tapi peminatnya banyak, terutama kaum muda melek kripto.
Pembayaran Makin Tipis
Pembayaran non-tunai sudah biasa. Sekarang trennya pembayaran tak terasa (ambient payment). Anda masuk toko, ambil barang, lalu keluar. Sensor mendeteksi Anda, mengambil barang, dan otomatis menagih ke akun Anda. Seperti Amazon Go, tapi tanpa perlu aplikasi khusus.
QRIS masih dominan di Indonesia, tapi mulai tergeser oleh NFC dan biometrik. Cukup tap ponsel atau tap jari, bayar selesai.
Ancaman Quantum Computing
Ini yang bikin bank gelisah. Enkripsi RSA yang mengamankan transaksi online bisa dipecahkan komputer kuantum dalam hitungan detik. Belum ada komputer sekuat itu di 2026, tapi dalam 5-10 tahun akan ada.
Bank besar mulai migrasi ke kriptografi pasca-kuantum. Prosesnya lambat dan mahal karena harus mengganti seluruh infrastruktur. Tapi tidak migrasi lebih berisiko.
Bank Indonesia membentuk gugus tugas untuk mempelajari ancaman ini. Target 2028, sistem pembayaran nasional sudah tahan kuantum.
Inklusi Keuangan
Dampak positif fintech: inklusi keuangan. Jutaan orang yang sebelumnya tidak punya rekening (unbanked) kini bisa menabung, meminjam, dan berinvestasi lewat ponsel.
Di Indonesia, penetrasi bank digital di daerah terpencil meningkat. Agen bank keliling menggunakan teknologi biometrik untuk membuka rekening tanpa dokumen fisik. Perempuan di desa bisa mulai usaha mikro dengan pinjaman digital.