Sektor peternakan tradisional seringkali mengandalkan pengamatan manual yang tidak selalu akurat dan tepat waktu. Teknologi IoT mengubahnya dengan memungkinkan pemantauan kesehatan hewan ternak secara real-time. Sensor yang dipasang pada kalung atau ear tag sapi dapat mengukur suhu tubuh, detak jantung, aktivitas makan, dan gerakan. Data ini dikirim ke cloud dan dianalisis. Jika ada anomali, seperti suhu naik yang menandakan demam, peternak akan langsung mendapat notifikasi di ponselnya sehingga dapat segera mengisolasi dan mengobati sapi tersebut, mencegah penularan ke seluruh populasi.
Di Indonesia, adopsi IoT di peternakan mulai digaungkan, terutama untuk komoditas bernilai tinggi seperti sapi perah dan sapi potong. Beberapa perusahaan peternakan modern telah mengimplementasikannya untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga melihat teknologi ini sebagai alat penting untuk mewujudkan swasembada daging dan susu serta meningkatkan kualitas kesehatan hewan nasional.
Data yang terkumpul dari ribuan sapi dapat menjadi aset berharga. Analisis data agregat dapat mengidentifikasi pola awal wabah penyakit di suatu wilayah, bahkan sebelum laporan kasus masuk ke dinas peternakan. Ini memungkinkan tindakan karantina dan vaksinasi dini yang sangat efektif. Data ini juga dapat digunakan untuk program pemuliaan (breeding), dengan memilih sapi-sapi yang memiliki catatan kesehatan dan produktivitas terbaik untuk dikembangbiakkan.
Tantangan utama penerapan IoT di peternakan adalah infrastruktur. Banyak peternakan berada di daerah dengan koneksi internet yang buruk. Selain itu, biaya sensor dan biaya langganan konektivitas masih relatif mahal bagi peternak kecil. Daya tahan baterai sensor di lapangan juga perlu dipertimbangkan. Dibutuhkan inovasi teknologi yang lebih murah dan efisien energi, serta dukungan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur digital di daerah sentra peternakan.