Gempa bumi tidak hanya mengancam daerah pegunungan, tetapi juga kota-kota besar di atas tanah lunak yang dapat memperkuat guncangan. Pada 2026, kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang memasang jaringan sensor seismik canggih menggunakan teknologi Distributed Acoustic Sensing (DAS).
DAS memanfaatkan kabel serat optik telekomunikasi yang sudah terkubur di bawah kota sebagai ribuan sensor seismik berkelanjutan. Sinar laser dikirim melalui serat, dan setiap gangguan mekanis (gelombang seismik, getaran konstruksi) mengubah sifat cahaya yang dipantulkan, dapat dilacak dengan resolusi meter.
Sistem ini dapat membedakan antara getaran truk berat, pembangunan gedung, dan gelombang P gempa yang datang lebih awal. Dengan AI, jaringan ini memetakan zona kerentanan seismik mikro di perkotaan dan memantau penurunan tanah (land subsidence) secara real-time. Data ini sangat berharga untuk perencanaan tata ruang dan peringatan dini.
Tantangan implementasi adalah akses ke infrastruktur kabel milik swasta dan pemrosesan data besar yang dihasilkan. Kemitraan dengan operator telekomunikasi dan penggunaan edge computing untuk pra-pemrosesan di lokasi menjadi solusi kunci. Urban DAS mengubah kota menjadi organisme yang dapat “merasakan” gejolak di bawah kakinya, meningkatkan ketahanan terhadap bencana geologi.