Masa Depan Penerbangan, Dari Bahan Bakar Berkelanjutan hingga Bandara Cerdas di Indonesia

Industri penerbangan Indonesia, yang menghubungkan ribuan pulau di seluruh nusantara, adalah tulang punggung konektivitas nasional dan sektor pariwisata. Namun, industri ini juga menghadapi tantangan besar: tekanan untuk mengurangi emisi karbon, efisiensi operasional di tengah persaingan ketat, dan peningkatan pengalaman penumpang. Teknologi menawarkan solusi di berbagai bidang, dari penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF) hingga pengembangan bandara cerdas yang menggunakan AI dan IoT untuk mengoptimalkan operasi. Indonesia, dengan sumber daya alam yang melimpah, memiliki potensi untuk menjadi pemain kunci dalam produksi SAF, misalnya dari minyak sawit atau limbah pertanian.

SAF adalah bahan bakar yang diproduksi dari sumber berkelanjutan, seperti minyak goreng bekas, limbah pertanian, atau alga, yang dapat mengurangi emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar fosil tradisional. Beberapa maskapai penerbangan global telah mulai menggunakan SAF dalam skala terbatas, dan target industri adalah mencapai net-zero emisi pada tahun 2050. Indonesia, sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, memiliki peluang untuk mengembangkan industri SAF yang kompetitif, asalkan produksinya dilakukan secara berkelanjutan dan tidak menyebabkan deforestasi atau konflik lahan. Pemerintah dapat memberikan insentif untuk investasi dalam fasilitas produksi SAF dan mewajibkan penggunaan SAF secara bertahap untuk penerbangan internasional yang berangkat dari Indonesia.

Di sisi bandara, teknologi cerdas mulai diadopsi untuk meningkatkan efisiensi dan pengalaman penumpang. Sensor IoT dapat memantau kepadatan di area check-in, imigrasi, dan boarding, memungkinkan manajemen aliran penumpang yang lebih baik dan pengurangan waktu tunggu. AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan penjadwalan gate dan alokasi sumber daya, mengurangi keterlambatan dan meningkatkan utilisasi aset. Biometrik, seperti pengenalan wajah, dapat mempercepat proses verifikasi identitas, memungkinkan penumpang bergerak melalui bandara dengan mulus tanpa perlu menunjukkan boarding pass berulang kali. Beberapa bandara di Indonesia, seperti Soekarno-Hatta, telah mulai mengimplementasikan teknologi ini secara bertahap.

Pengalaman penumpang juga ditingkatkan melalui aplikasi mobile yang menyediakan informasi real-time tentang status penerbangan, lokasi bagasi, dan navigasi di dalam bandara. Dengan integrasi data dari berbagai sistem bandara dan maskapai, aplikasi ini dapat memberikan notifikasi proaktif tentang perubahan gate, keterlambatan, atau waktu yang tepat untuk menuju boarding. Beberapa bandara bahkan bereksperimen dengan robot informasi yang dapat membantu penumpang menemukan jalan atau menjawab pertanyaan umum.