Membangun Ekosistem Riset dan Pengembangan Energi Panas Bumi Generasi Berikutnya: Pengembangan Teknologi Enhanced Geothermal System (EGS) dan Closed-Loop Geothermal untuk Sumber Daya Panas Bumi Non-Konvensional (Batuan Kering Panas, Sistem Geopressured) di Sumatera, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil

Indonesia adalah raksasa panas bumi yang tertidur. Dengan potensi 24 GW, kita baru memanfaatkan 2,3 GW. Tantangannya bukan hanya investasi, tetapi teknologi. Sebagian besar potensi panas bumi Indonesia berada di sistem hidrotermal konvensional (ada reservoir air panas di kedalaman 1-3 km). Ini yang selama ini kita kembangkan dengan teknologi PLTP konvensional. Namun, potensi yang lebih besar, mungkin 2-3 kali lipat, berada di sumber daya non-konvensional: batuan kering panas (hot dry rock) dan sistem geopressured. Di Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Kepulauan Sunda Kecil, terdapat batuan beku (granit, andesit) pada kedalaman 4-7 km dengan suhu 200-350°C, tetapi tanpa fluida atau dengan permeabilitas sangat rendah. Ini adalah lautan energi yang tidak tersentuh. Teknologi Enhanced Geothermal System (EGS) dan Closed-Loop Geothermal adalah kunci untuk membukanya.

Visi Proyek EGS-NUSANTARA (fase 2) adalah mengembangkan pusat riset EGS tropis pertama di dunia, dengan fokus pada karakterisasi reservoir batuan kering panas, pengembangan teknik stimulasi yang sesuai dengan kondisi geologi Indonesia, dan uji coba lapangan skala pilot.

Komponen 1: Pemetaan dan Karakterisasi Reservoir Batuan Kering Panas. EGS-NUSANTARA memulai dengan ekspedisi eksplorasi di tiga lokasi prioritas:

  • Sumatera Barat: sekitar Danau Singkarak dan Solok. Batuan beku intrusif (granit) dangkal (3-5 km). Dekat dengan jaringan listrik dan industri.
  • Sulawesi Tengah: sekitar Palu dan Poso. Batuan metamorf dan granit. Potensi untuk pengembangan industri smelter nikel dengan listrik panas bumi.
  • Nusa Tenggara Timur: sekitar Flores dan Sumbawa. Batuan vulkanik tua (andesit). Potensi untuk listrik pulau-pulau kecil.

Eksplorasi menggunakan kombinasi:

  • Survei MT (Magnetotellurik) 3D resolusi tinggi untuk memetakan resistivitas batuan hingga kedalaman 10 km.
  • Survei gravitasi dan magnetik untuk mengidentifikasi intrusi batuan beku.
  • Pengeboran ilmiah (scientific drilling) : 1-2 sumur eksplorasi kedalaman 3-4 km untuk validasi.

Komponen 2: Pengembangan Teknik Stimulasi Reservoir (Hydroshearing). EGS konvensional menggunakan hydraulic fracturing dengan tekanan sangat tinggi, mirip fracking di industri migas. Teknik ini berisiko memicu gempa mikro (induced seismicity) dan membutuhkan volume air besar. EGS-NUSANTARA mengembangkan hydroshearing:

  • Tekanan lebih rendah, tetapi laju aliran tinggi.
  • Tidak menciptakan rekahan baru, tetapi membuka rekahan alami yang ada (shear dilation).
  • Gempa mikro yang diinduksi lebih kecil dan dapat diprediksi.
  • Fluida kerja: air laut atau air asin, bukan air tawar.

Komponen 3: Sistem Closed-Loop (Sirkulasi Tertutup) untuk Daerah Rawan Air. Untuk daerah dengan keterbatasan air (NTT, NTB), EGS-NUSANTARA mengembangkan teknologi closed-loop:

  • Pipa koaksial (coaxial heat exchanger) atau sistem U-tube yang ditanam di dalam sumur.
  • Fluida kerja: CO₂ superkritis atau hidrokarbon ringan (isobutana) yang disirkulasikan dalam pipa tertutup.
  • Tidak ada kontak antara fluida kerja dan batuan, tidak ada konsumsi air, tidak ada risiko migrasi fluida ke akuifer dangkal.

Komponen 4: Uji Coba Skala Pilot dan Komersialisasi. EGS-NUSANTARA membangun pembangkit skala pilot 1-5 MW di salah satu lokasi prioritas:

  • 1 sumur injeksi + 1-2 sumur produksi.
  • Pembangkit siklus biner (binary cycle) untuk memanfaatkan fluida bertemperatur menengah (150-200°C).
  • Operasi 24/7 selama 2 tahun untuk menguji keberlanjutan reservoir (apakah mendingin atau tetap stabil).

Dampak EGS-NUSANTARA bersifat strategis dan jangka panjang. Dampak energi: membuka frontier baru panas bumi Indonesia. Potensi EGS diperkirakan >20 GW, setara dengan 10 PLTU batubara raksasa. Dampak geopolitik: mengurangi ketergantungan pada batubara dan gas, memperkuat posisi Indonesia dalam negosiasi iklim internasional. Dampak ilmiah: Indonesia menjadi pemimpin global dalam riset EGS tropis. Tidak ada negara tropis lain yang memiliki program EGS seintensif ini. Dampak ekonomi: industri EGS akan menciptakan lapangan kerja bagi ribuan insinyur geologi, geofisika, dan teknik mesin. EGS-NUSANTARA adalah mimpi besar yang membutuhkan nyali besar, tetapi imbalannya adalah kemerdekaan energi sejati.