Membangun Sistem Logistik Vaksin dan Obat-obatan Berbasis Blockchain dan IoT: Pengembangan Platform Manajemen Rantai Dingin Nasional untuk Menjamin Mutu, Keamanan, dan Ketersediaan Vaksin Program Imunisasi, Obat-obatan Esensial, dan Produk Biologis di Seluruh Fasilitas Kesehatan Indonesia, dari Pabrik hingga Puskesmas Terpencil

Vaksin adalah produk biologis paling rapuh. Paparan suhu di luar rentang 2-8°C selama beberapa jam dapat merusaknya secara permanen. Vaksin yang rusak tidak terlihat berbeda dengan vaksin yang baik; ia tetap jernih, tetap cair. Tetapi ketika disuntikkan, ia tidak memberikan perlindungan apa pun. Anak yang divaksin tetap rentan terhadap penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Indonesia adalah negara kepulauan dengan ribuan pulau, ratusan gudang penyimpanan, ribuan puskesmas, dan jutaan tenaga kesehatan. Mengelola rantai dingin vaksin di Indonesia adalah salah satu operasi logistik paling kompleks di dunia. Saat ini, Kementerian Kesehatan dan Bio Farma telah memiliki sistem pelacakan vaksin, tetapi belum real-time dan belum terintegrasi end-to-end. Vaksin yang dikirim ke puskesmas di Papua sering kali tiba dengan suhu di atas 8°C, tetapi petugas tidak mengetahuinya. Vaksin tetap dipakai. Anak-anak tetap disuntik. Kekebalan herd yang diharapkan tidak pernah tercapai.

Visi Proyek VAKSIN-AMAN adalah mengembangkan sistem manajemen rantai dingin nasional yang terintegrasi secara vertikal (dari pabrik ke ujung jarum) dan horizontal (antar gudang, antar provinsi), menggunakan teknologi blockchain untuk mencatat setiap perpindahan dan sensor IoT untuk memantau suhu secara real-time.

Komponen 1: Sensor Suhu Real-Time dengan Konektivitas Satelit. Setiap koli vaksin, setiap lemari es puskesmas, setiap cold box, dan setiap vaccine carrier dilengkapi dengan sensor suhu yang:

  • Mencatat suhu setiap 5-10 menit.
  • Mengirimkan data via jaringan seluler (4G/5G) atau, untuk daerah tanpa sinyal, via satelit (NB-IoT via satelit atau terminal satelit mini).
  • Memberikan peringatan instan jika suhu keluar dari rentang yang diizinkan.

Komponen 2: Blockchain untuk Rekam Jejak Vaksin. Setiap botol vaksin diberi kode unik (serial number) yang dicetak pada kemasan sekunder. Setiap kali botol berpindah tangan (dari pabrik ke gudang Bio Farma, ke gudang Dinas Kesehatan provinsi, ke puskesmas, hingga ke lemari es puskesmas), transaksi ini dicatat dalam blockchain:

  • Identitas botol (kode batch, tanggal kedaluwarsa).
  • Lokasi dan waktu perpindahan.
  • Suhu rata-rata selama penyimpanan di lokasi sebelumnya.
  • Identitas petugas yang menerima dan menyerahkan.

Rekam jejak ini tidak dapat diubah dan dapat diverifikasi oleh siapa pun (Kemenkes, BPOM, BPKP, bahkan publik) kapan pun.

Komponen 3: Dashboard Nasional Ketersediaan dan Mutu Vaksin. Data dari jutaan sensor dan blockchain diagregasi dalam dashboard real-time:

  • Stok vaksin per provinsi, kabupaten, puskesmas (dosis tersedia, dosis akan kedaluwarsa dalam 30 hari).
  • Kualitas rantai dingin: persentase waktu penyimpanan dalam rentang suhu ideal untuk setiap fasilitas.
  • Peringatan dini: jika suatu puskesmas memiliki stok vaksin campak yang akan kedaluwarsa dalam 2 minggu dan tidak ada jadwal imunisasi, sistem merekomendasikan redistribusi ke puskesmas tetangga.

Komponen 4: Insentif dan Penegakan Kontrak Berbasis Kinerja. VAKSIN-AMAN digunakan untuk mengukur kinerja semua pihak dalam rantai pasok vaksin:

  • Distributor (Bio Farma, jasa logistik) dibayar berdasarkan kinerja: persentase pengiriman tepat waktu, persentase pengiriman dengan suhu terjaga.
  • Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mendapatkan peringkat berdasarkan kualitas rantai dingin di wilayahnya; peringkat ini memengaruhi alokasi DAK (Dana Alokasi Khusus) kesehatan.
  • Puskesmas dengan kinerja terbaik mendapatkan insentif (tambahan BLUD, penghargaan).

Dampak VAKSIN-AMAN bersifat kesehatan masyarakat dan tata kelola. Dampak kesehatan: setiap anak Indonesia menerima vaksin yang benar-benar manjur, bukan vaksin yang sudah rusak. Kekebalan komunitas (herd immunity) tercapai lebih cepat. Dampak efisiensi: mengurangi vaksin terbuang akibat kedaluwarsa atau kerusakan rantai dingin (diperkirakan 10-20% dari total pengadaan). Dampak transparansi: masyarakat dapat memverifikasi sendiri kualitas vaksin yang diterima anaknya melalui kode QR pada kemasan. Dampak akuntabilitas: tidak ada lagi pihak yang dapat mengelak ketika vaksin rusak ditemukan; blockchain mencatat siapa yang bertanggung jawab. VAKSIN-AMAN adalah tali pusat yang menghubungkan pabrik Bio Farma di Bandung dengan balita di pedalaman Asmat, memastikan bahwa janji perlindungan kesehatan sampai dengan utuh.