Menembus Kabut Asap: Pengembangan Sistem Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut Berbasis Drone Swarm dengan Muatan Cairan Pendingin dan Pembasah Bertekanan Tinggi, Dipandu oleh Model Penyebaran Api Real-Time dan Prediksi Titik Panas Berbasis AI

Kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia bukan sekadar bencana lingkungan musiman; ia adalah kegagalan sistemik dalam pencegahan, deteksi dini, dan pemadaman. Setiap tahun, miliaran rupiah dikerahkan untuk operasi pemadaman, tetapi efektivitasnya sangat rendah. Mengapa? Karena teknologi yang digunakan tidak sesuai dengan karakteristik kebakaran gambut. Gambut terbakar bukan hanya di permukaan, tetapi jauh di bawah tanah (subsurface). Api merambat perlahan di lapisan gambut kering, sulit dideteksi dari udara, dan tidak bisa dipadamkan dengan water bombing konvensional yang hanya membasahi permukaan. Helikopter juga tidak bisa beroperasi di malam hari saat angin mereda, sehingga api terus membakar tanpa gangguan. Solusinya bukan pada peningkatan jumlah helikopter, tetapi pada perubahan paradigma taktik pemadaman.

Visi ini adalah pengembangan Sistem Pemadam Api Gambut Cerdas (Smart Peat Fire Suppression System/SPFSS) , sebuah ekosistem terintegrasi yang menggabungkan kecerdasan buatan untuk prediksi, drone swarm untuk eksekusi, dan agen pemadam kimia-fisik yang dirancang khusus untuk karakteristik gambut tropis.

Komponen pertama adalah sistem prediksi dan pemetaan risiko real-time. Model AI dilatih dengan data historis: titik panas (hotspot) dari satelit MODIS dan Landsat, data curah hujan harian dari BMKG, kedalaman muka air gambut dari sensor di lapangan, dan peta kerentanan lahan. Model ini tidak hanya memprediksi “di mana” kebakaran akan terjadi, tetapi juga bagaimana api akan menyebar dalam 6, 12, dan 24 jam ke depan berdasarkan prediksi arah dan kecepatan angin. Outputnya adalah peta prioritas intervensi yang diperbarui setiap jam.

Komponen kedua adalah armada drone pemadam otonom (swarm) . Drone yang digunakan bukan drone kamera biasa, tetapi heavy-lift drone berukuran 2-3 meter dengan kapasitas angkut cairan 30-50 liter. Mereka dilengkapi dengan nozel bertekanan tinggi yang mampu menyemprotkan cairan dalam bentuk mist (kabut air) dengan ukuran droplet sangat kecil. Droplet kecil ini memiliki dua keunggulan: ia dapat menembus celah-celah gambut dan mendinginkan area yang luas melalui penguapan cepat.

Komponen ketiga adalah formulasi cairan pemadam khusus gambut. Air saja tidak efektif karena gambut bersifat hidrofobik (menolak air) saat kering ekstrem. Cairan pemadam diformulasikan dengan surfaktan biodegradable yang menurunkan tegangan permukaan air, memungkinkannya meresap ke dalam gambut. Ditambahkan pula polimer superabsorben (hydrogel) yang dapat menyerap air hingga 500 kali beratnya, membentuk gel yang melapisi gambut dan mencegah oksigen mencapai api. Komponen ini juga mengandung selulosa bakterial yang mendukung pertumbuhan mikroba pengurai gambut, membantu restorasi lahan pasca-kebakaran.

Komponen keempat adalah logika koordinasi swarm. Dengan keterbatasan jumlah drone dan luas area kebakaran, alokasi sumber daya harus optimal. Algoritma kontrol swarm membagi area kebakaran menjadi grid-grid dan menetapkan prioritas berdasarkan: kedekatan dengan pemukiman, asap yang mengganggu bandara, nilai konservasi ekosistem, dan potensi penyebaran. Drone bekerja dalam gelombang : gelombang pertama akun slot menyemprotkan gel hidro-reseptif untuk membasahi gambut, gelombang kedua (15 menit kemudian) menyemprotkan air biasa yang kini dapat meresap, dan seterusnya.

Tantangan terbesar bukan pada kecanggihan drone, tetapi pada integrasi dengan birokrasi dan masyarakat. Sistem prediksi yang akurat tidak ada gunanya jika tidak ada otoritas yang diberi wewenang untuk mengerahkan drone sebelum api membesar. Ini membutuhkan perubahan regulasi dan protokol tanggap darurat. Selain itu, drone tidak mungkin memadamkan api sendirian; mereka adalah force multiplier bagi tim Manggala Agni di lapangan. Desain antarmuka harus sederhana: petugas di posko cukup menunjuk area di peta, dan sistem secara otomatis merencanakan rute dan mengoordinasikan armada.

Dampak jangka panjang dari SPFSS adalah pergeseran dari pemadaman reaktif ke pencegahan proaktif. Dengan kemampuan mendeteksi dan memadamkan titik api dalam 30 menit pertama, kebakaran skala besar yang menghasilkan kabut asap antar-provinsi dapat dicegah. Ini melindungi kesehatan jutaan warga, menyelamatkan kerugian ekonomi miliaran rupiah, dan yang terpenting, mencegah kerusakan ekologis gambut yang tak terpulihkan. Teknologi ini adalah bentuk pertahanan sipil terhadap bencana yang setiap tahun datang silih berganti, mengubah negara dari korban menjadi pengendali.