Metaverse untuk Pelatihan Bisnis: Hype atau Revolusi Pembelajaran?

Istilah “metaverse” menggema di mana-mana, seringkali dikaitkan dengan game dan hiburan. Namun, di balik hiruk-pikuk tersebut, terdapat potensi transformatif untuk dunia pelatihan dan pendidikan bisnis. Apakah metaverse hanya sekadar hype sesaat, atau ia benar-benar merevolusi cara kita mempelajari soft skill, melakukan networking, dan simulasi bisnis? Mari kita selami dengan kritis.

Potensi terbesar metaverse untuk pelatihan bisnis terletak pada simulasi imersif untuk pengembangan soft skill. Bayangkan seorang manajer junior dapat berlatih melakukan negosiasi yang sulit dengan “klien virtual” yang direkam oleh AI, atau memimpin rapat dewan direksi di ruang konferensi virtual yang megah. Latihan public speaking di depan audiens avatar global, atau simulasi menangani krisis PR, dapat dilakukan dalam lingkungan yang aman namun sangat realistis, di mana tekanan psikologis nyata dapat dirasakan tanpa konsekuensi bisnis yang fatal.

Selain itu, metaverse menghilangkan batasan geografis untuk networking dan konferensi. Seorang pengusaha dari Surabaya dapat dengan mudah menghadiri pameran dagang internasional di metaverse, berjalan-jalan di stan virtual, bertukar kartu nama digital, dan berdiskusi langsung dengan avatar peserta dari Eropa atau Amerika, semuanya tanpa biaya pesawat dan hotel. Ini membuka akses yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi UKM untuk terhubung dengan jaringan global.

Pelatihan teknis juga diuntungkan. Simulasi perakitan atau perawatan mesin industri kompleks di metaverse dapat mengurangi risiko kecelakaan dan kerusakan alat. Karyawan ritel dapat berlatih menghadapi berbagai tipe pelanggan di toko virtual sebelum bertugas di toko fisik. Namun, tantangannya nyata. Investasi hardware seperti headset VR yang nyaman masih mahal. Ketersediaan infrastruktur internet yang mumpuni dan isu seperti “motion sickness” menjadi penghalang praktis.

Langkah awal yang realistis bagi akademi bisnis adalah mulai dengan platform metaverse berbasis browser yang lebih ringan, seperti Gather.town atau Mozilla Hubs, untuk acara networking atau kelas kolaboratif. Ini memungkinkan adaptasi bertahap. Kesimpulannya, metaverse bukan sekadar hype. Ia menawarkan paradigma baru “experiential learning” yang sangat powerful. Meski teknologi pendukungnya masih berkembang, institusi pendidikan bisnis yang visioner sudah harus mulai bereksperimen dan mempersiapkan kurikulum untuk masa depan yang lebih imersif ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *