Candi yang rusak, artefak yang terkunci di museum, tradisi lisan yang punah—warisan budaya sering terancam. Solusi inovatifnya adalah Phygital Heritage. Menggunakan Augmented Reality (AR), pengunjung dapat menyaksikan rekonstruksi candi utuh melalui ponselnya di lokasi aslinya. Lebih jauh, benda budaya fisik direplikasi sebagai NFT (Non-Fungible Token) yang tidak hanya sebagai koleksi digital, tapi juga membawa hak kepemilikan pecahan dan royalti. Komunitas lokal bisa menjual “saham digital” dari sebuah situs warisan, dan dana dari penjualan digunakan untuk restorasi fisik. Setiap kali NFT itu diperjualbelikan, komunitas penerima royalti. Projek seperti ini sedang diuji di Bali dan Yogyakarta. Ini menciptakan ekonomi baru yang melestarikan warisan, mengubah penikmat pasif menjadi pemilik dan penjaga aktif yang memiliki kepentingan finansial dan emosional terhadap kelangsungan budaya.
Related Posts
Sukses Story: Adopsi CRISPR Gene Editing untuk Transformasi Digital 2026-2027
- admin
- Februari 18, 2026
- 4 min read
- 0
4D Printing for Adaptive Products 2026: Objek Cetak 3D yang Berubah Bentuk dan Fungsi Waktu
- admin
- Februari 3, 2026
- 1 min read
- 0
# Implementasi Proses Peer Review yang Efektif di Indonesia
- admin
- Februari 8, 2026
- 2 min read
- 0