Kemacetan lalu lintas di kota-kota besar Indonesia (Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Makassar, Semarang, Palembang, Denpasar, Batam, Balikpapan) telah mencapai titik kritis. Rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta pada jam sibuk hanya 10-15 km/jam, setara dengan naik sepeda. Kerugian ekonomi akibat kemacetan diperkirakan Rp 100 triliun per tahun. Pemerintah telah membangun infrastruktur transportasi massal (MRT, LRT, BRT, kereta komuter) dengan investasi triliunan rupiah. Namun, pangsa moda angkutan umum tidak kunjung naik signifikan. Mengapa? Karena sistem transportasi publik masih terpecah-pecah. Setiap moda berjalan sendiri-sendiri, dengan tiket terpisah, jadwal tidak terkoordinasi, dan halte/stasiun yang tidak terintegrasi secara fisik.
Visi Proyek KOTA-MOBIL adalah mengembangkan model integrasi transportasi publik komprehensif yang dapat diterapkan di 10 kota metropolitan, dengan tiga pilar integrasi: fisik, digital, dan tarif.
Komponen 1: Integrasi Fisik (Physical Integration). Ini adalah yang paling mahal, tetapi paling mendasar. Proyek KOTA-MOBIL mengembangkan standar nasional untuk desain stasiun/halte terintegrasi:
- Stasiun transit bersama (co-located stations) : stasiun kereta, halte BRT, dan shelter angkot/feeder berada dalam satu kompleks atau berjarak <100 meter, dihubungkan oleh jembatan penyeberangan berpendingin (skybridge).
- Park and ride yang memadai di stasiun-stasiun pinggiran, dengan tarif parkir yang disubsidi untuk pengguna transportasi umum.
- Akses pejalan kaki dan pesepeda yang aman dan nyaman ke stasiun/halte.
Komponen 2: Integrasi Digital (Digital Integration). Pengguna transportasi umum tidak ingin menginstal 5 aplikasi berbeda. KOTA-MOBIL mengembangkan platform data terbuka yang mewajibkan semua operator transportasi (swasta dan publik) untuk membagikan data:
- Rute, jadwal, dan posisi real-time kendaraan.
- Ketersediaan parkir di stasiun-stasiun besar.
- Informasi gangguan layanan.
Data ini digunakan oleh aplikasi perencana perjalanan pihak ketiga (Google Maps, Moovit, atau aplikasi lokal) sehingga pengguna dapat merencanakan perjalanan multi-moda dengan mudah.
Komponen 3: Integrasi Tarif (Fare Integration). Ini adalah kunci psikologis. Pengguna transportasi umum tidak mau membayar berkali-kali hanya karena ganti moda. KOTA-MOBIL mengembangkan sistem pembayaran tunggal (single ticketing):
- Satu kartu atau satu aplikasi untuk semua moda: MRT, LRT, KRL, Transjakarta, angkot, dan bahkan ojek online (sebagai feeder).
- Sistem tarif terintegrasi (integrated fare): pengguna membayar berdasarkan total jarak tempuh, bukan jumlah moda yang digunakan. Ganti dari KRL ke MRT ke bus tidak dikenai biaya tambahan.
- Batasan tarif harian/mingguan (fare capping): setelah mencapai batas tertentu, perjalanan selanjutnya gratis.
Komponen 4: Manajemen Risiko dan Pembiayaan. Integrasi transportasi membutuhkan investasi besar dan koordinasi antar banyak pihak (pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, swasta). KOTA-MOBIL mengembangkan model kemitraan publik-swasta (KPS) yang inovatif:
- Kontrak berbasis kinerja (performance-based contract) : pemerintah membayar operator berdasarkan jumlah penumpang dan kualitas layanan (ketepatan waktu, kebersihan), bukan berdasarkan kilometer tempuh.
- Skema value capture: sebagian peningkatan nilai properti di sekitar stasiun transit dikembalikan untuk mendanai operasional transportasi.
- Pooling risiko: pemerintah pusat dan daerah berbagi risiko pendapatan dengan operator swasta.
Dampak KOTA-MOBIL bersifat transformatif. Dampak mobilitas: peningkatan pangsa moda angkutan umum dari 20% menjadi 50% dalam 10 tahun. Dampak lingkungan: pengurangan emisi CO₂ jutaan ton per tahun. Dampak ekonomi: penghematan waktu dan bahan bakar triliunan rupiah. Dampak sosial: aksesibilitas yang lebih adil. Masyarakat miskin perkotaan tidak lagi menjadi warga kelas dua yang harus menghabiskan 3 jam per hari di kemacetan. Dampak tata ruang: mendorong pembangunan berorientasi transit (TOD), mengurangi urban sprawl. KOTA-MOBIL adalah sistem peredaran darah untuk kota-kota Indonesia yang tersumbat. Dengan operasi yang tepat, jantung kota akan berdetak kembali.