ARTIKEL 51: Sistem Deteksi Dini Kebakaran pada Rumah Tinggal berbasis Sensor Asap dan Suhu dengan Notifikasi Call Center
Pendahuluan
Kebakaran rumah sering terjadi dan menyebabkan korban jiwa karena keterlambatan deteksi. Penelitian ini mengembangkan sistem deteksi dini kebakaran yang tidak hanya memberi alarm lokal tetapi juga menghubungi call center pemadam kebakaran otomatis.
Desain Sistem
Hardware:
- Mikrokontroler: ESP32
- Sensor: MQ-2 (asap), DS18B20 (suhu), flame sensor (UV)
- Modul SIM800L untuk panggilan otomatis
- Buzzer dan LED indikator
- Baterai cadangan untuk saat listrik padam
Logika Deteksi
Kebakaran dinyatakan jika:
- Asap terdeteksi (kadar > 500 ppm) DAN suhu > 60°C, ATAU
- Flame sensor mendeteksi api (jarak < 1 meter)
Alur Notifikasi
- Alarm lokal berbunyi (buzzer)
- SMS dikirim ke 3 nomor darurat (kepala keluarga, RT, pemadam)
- Sistem melakukan panggilan otomatis ke call center pemadam dengan pesan voice: “KEBAKARAN di [alamat lengkap], koordinat [link Google Maps]”
- Jika panggilan tidak dijawab, ulang setiap 2 menit (maks 5 kali)
Implementasi
Diuji di 20 rumah di perumnas Depok selama 6 bulan dengan simulasi kebakaran terkontrol (menggunakan lilin dan asap buatan).
Hasil
- Waktu deteksi: <10 detik
- Waktu notifikasi SMS: 3 detik
- Panggilan otomatis berhasil terhubung 95% (5% sibuk)
- False alarm: 2 kejadian (asap masak terdeteksi) – diperbaiki dengan penambahan flame sensor
- Baterai cadangan bertahan 8 jam
Pembahasan
Integrasi dengan pemadam memungkinkan respons cepat. Petugas pemadam menerima koordinat akurat (±5 meter). Rata-rata waktu kedatangan pemadam turun dari 20 menit menjadi 12 menit.
Kesimpulan
Sistem deteksi kebakaran dengan notifikasi otomatis ke pemadam efektif mempercepat respons dan menyelamatkan jiwa.
Kata Kunci: Deteksi Kebakaran, IoT, Notifikasi Otomatis, Call Center, ESP32
ARTIKEL 52: Pengembangan Alat Bantu Jalan untuk Tunanetra dengan Sensor Ultrasonik dan Umpan Balik Suara
Pendahuluan
Tongkat konvensional untuk tunanetra hanya mendeteksi objek dalam jangkauan pendek. Penelitian ini mengembangkan alat bantu jalan wearable yang mendeteksi halangan dari jarak jauh dengan umpan balik suara.
Desain Alat
Hardware:
- Mikrokontroler: Arduino Nano
- Sensor: 3 buah sensor ultrasonik HC-SR04 (depan, kiri, kanan)
- Sensor: MPU6050 untuk deteksi jatuh
- Output: Earphone dengan voice guidance, buzzer getar
- Baterai: 18650 (tahan 10 jam)
Cara Kerja
Sensor membaca jarak secara bergantian setiap 100 ms. Jarak dikonversi ke suara:
- 3 meter: “Aman”
- 2-3 meter: “Perhatian” (nada pelan)
- 1-2 meter: “Hati-hati” (nada sedang)
- < 1 meter: “Berhenti” + buzzer getar
Arah halangan disebut: “Depan 2 meter”, “Kiri 1 meter”, dll.
Fitur Tambahan
- Deteksi jatuh: jika kemiringan >60° dan tidak ada gerakan, kirim SMS ke keluarga
- Mode malam: lampu LED otomatis untuk dilihat pengendara
- GPS tracker untuk lokasi darurat
Implementasi
Diuji oleh 10 tunanetra di Sentra Advayana Jakarta selama 1 bulan. Evaluasi dengan kuesioner dan uji lapangan.
Hasil
- Pengguna merasa lebih percaya diri berjalan di tempat ramai
- Kemampuan menghindari halangan meningkat 70%
- Deteksi objek hingga 4 meter (tongkat biasa hanya 1 meter)
- 2 kejadian jatuh terdeteksi dan mengirim notifikasi ke keluarga
- Skor kepuasan pengguna: 4,6/5
Pembahasan
Sensor ultrasonik kurang baik untuk objek kecil (kawat, lubang). Solusi: kombinasi dengan kamera untuk penelitian lanjutan. Harga alat Rp 850.000.
Kesimpulan
Alat bantu jalan elektronik efektif meningkatkan mobilitas dan keselamatan tunanetra.
Kata Kunci: Tunanetra, Alat Bantu Jalan, Sensor Ultrasonik, Wearable, IoT