Gedung-gedung perkantoran dan mal di Jakarta dan Surabaya pada 2026 menjadi “makhluk hidup” yang cerdas dalam mengelola energinya melalui Sistem Manajemen Energi Bangunan (BEMS) Generasi AI. Sistem ini mengintegrasikan dan mengontrol semua perangkat pemakan energi: HVAC (pemanas, ventilasi, AC), pencahayaan, elevator, bahkan colokan listrik di setiap ruangan. Jaringan sensor memantau suhu, kelembaban, kualitas udara, dan keberadaan penghuni. AI “Building Butler” kemudian memproses data ini bersama dengan prediksi cuaca, tarif listrik waktu-guna (time-of-use pricing), dan jadwal penggunaan gedung. Ia membuat keputusan optimal secara real-time: menyesuaikan suhu AC beberapa derajat di area yang sepi, meredupkan lampu di zona yang terkena sinar matahari, atau menjadwalkan pengisian baterai EV di gedung saat tarif listrik paling murah. Sistem belajar dari pola penggunaan dan terus mengoptimalkan dirinya, berpotensi menghemat biaya energi 20-35% tanpa mengorbankan kenyamanan. Tantangan implementasi adalah retrofitting gedung lama dengan sensor dan kontrol, serta integrasi dengan sistem otomasi gedung dari berbagai vendor. Namun, bagi gedung baru, sistem ini menjadi standar hijau. Teknologi ini merupakan tulang punggung menuju bangunan nol-emisi, di mana efisiensi ekstrem dan integrasi energi terbarukan atap menjadi norma.
Related Posts
Crisis Simulator for Academia: Platform Pelatihan dan Manajemen Reputasi untuk Menangani Skrip Krisis Kampus
- admin
- Januari 24, 2026
- 1 min read
- 0
Akademi 2026: Studi Resistensi Antimikroba (AMR) Berbasis Sistem Kompleks & Pemodelan Prediktif
- admin
- Januari 27, 2026
- 1 min read
- 0