Pengendalian hama seperti kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) di perkebunan kelapa sawit masih bergantung pada insektisida kimia yang merusak lingkungan. Tahun 2026, pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) presisi dengan feromon sintetis dan drone menjadi solusi utama. Feromon seks sintetis hama disintesis di lab dengan memetakan molekul spesifik dari serangga target. Feromon ini kemudian dimuat ke dalam dispenser mikro yang dirancang khusus untuk dilepaskan oleh drone otonom. Drone yang diprogram dengan peta perkebunan terbang di ketinggian rendah sesuai pola grid, melepaskan dispenser feromon secara presisi di titik-titik tertentu untuk menciptakan “awan aroma” yang mengacaukan komunikasi seksual hama. Jantan tidak dapat menemukan betina, sehingga siklus reproduksi terputus. Selain itu, feromon agregasi juga digunakan untuk menarik hama ke perangkap pintar yang dilengkapi sensor. Ketika perangkap penuh, ia mengirim sinyal untuk dikosongkan. Sistem ini dikembangkan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara dan startup agritech dari Bogor. Hasil uji coba di Riau menunjukkan penurunan populasi hama hingga 70% tanpa penyemprotan insektisida sama sekali. Keunggulannya adalah sangat spesifik (hanya target hama tertentu), ramah lingkungan, dan menghemat biaya tenaga kerja. Tantangannya adalah sintesis feromon yang stabil di iklim tropis dan akurasi pelepasan drone. Teknologi ini mengubah pengendalian hama dari perang kimia massal menjadi operasi intelijen dan sabotase biologis yang presisi dan elegan.
Related Posts
Teknologi Brain-Computer Interfaces & Neuroprosthetics – Jembatan Antara Pikiran dan Mesin
- admin
- Januari 28, 2026
- 4 min read
- 0
Simbiosis Perkotaan – Kota sebagai Jaringan Organisme Multispesies
- admin
- Januari 27, 2026
- 1 min read
- 0