SMK Muhammadiyah Salatiga Bikin Mobil Listrik: Kisah E MOZA, Bukti Bahwa Inovasi Teknologi Bukan Monopoli Kampus Ternama, Tapi Bisa Lahir dari Bangku Sekolah Kejuruan

Ketika kita berbicara tentang inovasi teknologi, pikiran kita sering tertuju pada kampus-kampus besar di Jakarta atau Bandung, atau perusahaan rintisan di pusat kota. Namun di Salatiga, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, sekelompok siswa SMK membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja. SMK Muhammadiyah Salatiga, melalui jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), berhasil meluncurkan mobil listrik karya siswa yang diberi nama E MOZA .

Peluncuran E MOZA berlangsung meriah di Alun-alun Pancasila Salatiga pada pertengahan Februari 2026. Mobil ramah lingkungan tersebut bahkan ditumpangi oleh pejabat daerah untuk berkeliling area alun-alun, menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat. Kepala SMK Muhammadiyah Salatiga, Suryono, menjelaskan bahwa mobil ini merupakan hasil pembelajaran berbasis proyek (project based learning) yang dikerjakan langsung oleh siswa .

Seluruh proses pembuatan dilakukan secara mandiri oleh siswa, mulai dari desain rangka, perakitan sistem penggerak, instalasi kelistrikan, hingga tahap finishing dan uji performa kendaraan listrik . Ini bukan sekadar merakit komponen jadi, tetapi benar-benar proses engineering yang kompleks. Siswa belajar memahami motor listrik, sistem kontrol, manajemen baterai, hingga aspek keselamatan kendaraan. Semua keterampilan ini relevan dengan kebutuhan industri otomotif masa depan yang semakin mengarah ke elektrifikasi.

Keberhasilan ini memperkuat posisi SMK Muhammadiyah Salatiga sebagai Sekolah Pusat Keunggulan (PK) dalam bidang pendidikan kejuruan, khususnya otomotif dan teknologi kendaraan listrik. Prestasi siswa juga terlihat dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Kota Salatiga, di mana perwakilan sekolah berhasil meraih Juara 2 pada cabang Automobile Technology dan Electrical Installation . Ini membuktikan bahwa bibit-bibit unggul teknologi ada di sekolah kejuruan, asalkan diberikan kesempatan dan fasilitas yang memadai.

E MOZA bukan hanya kendaraan hasil praktik sekolah. Ia adalah simbol kreativitas, inovasi teknologi, dan prestasi generasi muda dari kota kecil. Ia membuktikan bahwa siswa SMK tidak hanya mampu memperbaiki kendaraan konvensional, tetapi juga siap menghadapi perkembangan teknologi kendaraan listrik yang hemat energi dan ramah lingkungan . Dari Salatiga, lahir karya yang siap bersaing di dunia teknologi otomotif masa depan. Inilah wajah baru pendidikan vokasi Indonesia: tidak kalah dengan negara lain, dan tidak perlu selalu melihat ke Jakarta untuk berinovasi.