Spatial Computing adalah paradigma komputasi di mana mesin memahami dan berinteraksi dengan ruang fisik tiga dimensi di sekitar kita, menghapus batas antara dunia digital dan fisik. Teknologi intinya meliputi augmented reality (AR), virtual reality (VR), mixed reality (MR), computer vision, dan sensor spatial mapping. Apple Vision Pro adalah contoh produk konsumen yang membawa konsep ini ke mainstream.
Dalam konteks bisnis dan industri, Spatial Computing merevolusi cara kerja. Teknisi pemeliharaan di lapangan dapat menggunakan kacamata AR untuk melihat petunjuk perbaikan yang diproyeksikan langsung di atas mesin, dengan komponen virtual yang menandai bagian yang perlu diperiksa. Arsitek dan insinyur dapat berkolaborasi dalam model 3D skala penuh di ruang virtual, mengelilingi dan memodifikasinya seolah-olah itu benda fisik. Di ritel, pelanggan dapat “mencoba” furnitur di ruang tamu mereka melalui smartphone sebelum membeli.
Keunggulan utamanya adalah intuitif (berinteraksi dengan dunia digital seperti dunia nyata), kontekstual (informasi muncul tepat di tempat dan waktu yang dibutuhkan), dan imersif (meningkatkan retensi informasi dan kolaborasi). Tantangan termasuk biaya perangkat keras, kebutuhan akan konten 3D yang kaya, dan potensi kelelahan pengguna. Masa depan akan melihat proliferasi perangkat yang lebih ringan dan terjangkau, serta platform pengembangan standar yang akan membuat Spatial Computing menjadi bagian sehari-hari dari antarmuka komputer, mengubah segala hal mulai dari telekonferensi hingga desain produk.
Sumber: MIT Media Lab, “Spatial Computing Research” https://www.media.mit.edu/groups/spatial-computing/overview/