Tahun 2026 dalam Retropeksi: Sebuah Sintesis tentang Arah Teknologi Indonesia, Antara Ambisi Infrastruktur dan Kebutuhan Kemanusiaan yang Paling Dasar

Jika kita mencoba merenungkan kembali perjalanan teknologi Indonesia di tahun 2026, kita akan melihat sebuah bangsa yang sedang bergulat dengan dua kutub yang tampaknya berseberangan. Di satu kutub, ada ambisi besar untuk membangun infrastruktur kelas dunia: pusat data berdensitas tinggi yang siap AI, koneksi internet 5G yang menjangkau seluruh penjuru, taksi terbang yang melayang di atas IKN, dan kolaborasi riset kedirgantaraan untuk memproduksi pesawat dan drone canggih. Ini adalah wajah Indonesia yang ingin melompat, menjadi pemain global, tidak lagi sekadar penonton di era industri 4.0.

Di kutub lain, ada realitas yang lebih membumi namun tak kalah mendesak: puskesmas di daerah terpencil yang kekurangan tenaga medis, petani yang membutuhkan data akurat tentang tanahnya, nelayan yang ingin prediksi cuaca mikro sebelum melaut, dan desa-desa yang didorong go digital di tengah keterbatasan literasi. Di sinilah pertanyaan paling mendasar dari refleksi Agus Supangat di Kompas.id menggema: apakah AI dan teknologi lainnya hanya akan berhenti sebagai simbol kemajuan dan mesin efisiensi bagi korporasi besar, ataukah ia benar-benar hadir menyentuh kebutuhan paling dasar warga? 

Menariknya, kedua kutub ini sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Infrastruktur canggih yang dibangun di kota-kota besar pada akhirnya akan menetes ke daerah, asalkan ada kebijakan yang memastikannya. Kedaulatan data dan pusat data nasional pada akhirnya akan melindungi data petani dan pasien puskesmas dari eksploitasi asing. Inovasi drone untuk pertahanan bisa diadaptasi untuk memantau lahan pertanian atau mengantar logistik ke daerah terpencil. Teknologi blockchain yang rumit bisa digunakan untuk mencatat sertifikat tanah petani secara transparan dan aman dari mafia.

Tahun 2026 mengajarkan kita bahwa teknologi adalah alat, bukan tujuan. Ia bisa menjadi mesin ketimpangan jika dibiarkan bekerja tanpa arah, tetapi ia juga bisa menjadi pengungkit keadilan jika diarahkan dengan kebijakan yang berpihak. Inovasi seperti SoilPIN yang lahir dari tangan pelajar 15 tahun membuktikan bahwa solusi untuk masalah-masalah dasar bisa datang dari tempat yang tak terduga, selama ada keberanian untuk membaca persoalan nyata dan menjawabnya dengan teknologi .

Pada akhirnya, arah teknologi Indonesia di tahun 2026 dan seterusnya akan ditentukan oleh satu hal: visi. Visi tentang Indonesia seperti apa yang ingin kita bangun. Apakah Indonesia yang teknologinya hanya dinikmati oleh segelintir orang di kota-kota besar, atau Indonesia di mana teknologi menjadi hak semua warga untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sehat, lebih mudah, dan lebih bermartabat. Jawabannya ada pada kebijakan yang kita buat, pada investasi yang kita pilih, dan pada inovasi yang kita apresiasi. Teknologi hanyalah cermin dari nilai-nilai masyarakat yang menciptakannya. Jika kita ingin teknologi yang berkeadilan, kita harus membangun masyarakat yang berkeadilan terlebih dahulu. Tahun 2026 adalah pengingat bahwa perjalanan ini masih panjang, tetapi langkah pertama sudah diambil.