Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman ikan air tawar tertinggi kedua di dunia, setelah Amazon. Dari 1.172 spesies ikan air tawar yang tercatat, lebih dari 400 di antaranya adalah endemik, tidak ditemukan di tempat lain di Bumi. Namun, kecepatan kepunahan saat ini sangat mengkhawatirkan. Danau-danau purba seperti Poso, Matano, dan Toba tercemar oleh limbah domestik dan budidaya perikanan intensif. Spesies invasif seperti ikan cichlid dan sapu-sapu memangsa telur ikan endemik. Pembukaan lahan menghilangkan hutan rawa gambut, habitat utama arwana super red. Dalam 20 tahun terakhir, setidaknya 5 spesies ikan endemik Indonesia dinyatakan punah, dan puluhan lainnya masuk kategori kritis. Konservasi in-situ (melindungi habitat) adalah ideal, tetapi di banyak tempat, kerusakan sudah sedemikian parah sehingga konservasi ex-situ bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Visi Cryo-Repository Nasional Ikan Endemik adalah membangun fasilitas penyimpanan sperma, sel telur, embrio, dan sel somatik dalam nitrogen cair (-196°C) untuk spesies-spesies ikan paling terancam. Ini bukan sekadar “museum biologi”, tetapi bank gen aktif yang suatu hari nanti dapat digunakan untuk memulihkan populasi yang telah punah di alam liar atau memperkuat keragaman genetik populasi yang tersisa.
Tantangan pertama adalah pengembangan protokol kriopreservasi yang sesuai untuk spesies tropis. Sebagian besar literatur kriopreservasi ikan berasal dari penelitian pada ikan salmon dan trout di negara subtropis. Ikan tropis memiliki fisiologi sperma yang berbeda (waktu motilitas lebih pendek, sensitivitas terhadap dingin ekstrem). Riset ini membutuhkan kolaborasi erat antara ahli reproduksi ikan, biologi sel, dan teknik pendinginan. Untuk spesies kritis seperti belida (Chitala lopis) yang populasinya sudah sangat langka, protokol harus dikembangkan dengan jumlah sampel yang sangat terbatas, menggunakan pendekatan statistik Bayesian.
Tantangan kedua adalah infrastruktur penyimpanan dan logistik. Sampel yang disimpan dalam nitrogen cair tidak bisa begitu saja diletakkan di freezer biasa. Mereka membutuhkan tangki kriogenik dengan sistem monitoring suhu real-time dan alarm otomatis jika terjadi kenaikan suhu. Pemadaman listrik di Indonesia masih sering terjadi; fasilitas harus memiliki cadangan nitrogen cair yang cukup untuk 30 hari dan generator cadangan yang otomatis aktif. Lokasi ideal fasilitas adalah di daerah dengan risiko bencana rendah dan akses transportasi mudah. BRIN dan Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu memikirkan model sentralisasi dengan cadangan terdistribusi: satu fasilitas utama di Jawa dengan cadangan di Sulawesi dan Papua.
Tantangan ketiga adalah konektivitas dengan upaya konservasi in-situ. Bank gen yang baik tidak hanya menyimpan, tetapi juga mengembalikan materi genetik ke alam. Ini membutuhkan integrasi dengan program hatchery dan restoking yang dikelola oleh Balai Riset Perikanan atau lembaga konservasi. Sperma yang telah disimpan selama 10-20 tahun harus tetap viabel saat digunakan untuk membuahi sel telur dari populasi liar. Dibutuhkan riset berkelanjutan tentang post-thaw fertility dan potensi akumulasi kerusakan genetik selama penyimpanan jangka panjang.
Tantangan keempat, yang paling kompleks, adalah akses dan kepemilikan. Sumber daya genetik adalah aset strategis nasional yang diatur dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Protokol Nagoya. Bank gen tidak boleh menjadi “gudang tertutup” yang hanya diakses oleh segelintir peneliti. Di sisi lain, akses yang terlalu longgar dapat menyebabkan biopiracy. Dibutuhkan kerangka hukum yang mengatur: siapa yang berhak mengakses sampel? Untuk tujuan apa? Bagaimana pembagian keuntungan jika materi genetik digunakan untuk pengembangan varietas ikan budidaya komersial?
Dampak dari fasilitas ini tidak akan terlihat dalam satu atau dua tahun, tetapi dalam skala waktu generasi. Ketika anak cucu kita bertanya, “Seperti apa rupa ikan belida raksasa yang dulu ada di Sungai Musi?”, mereka tidak hanya bisa melihat foto. Jika bank gen ini dikelola dengan baik, mereka mungkin bisa menyaksikan ikan itu berenang lagi, dikembalikan ke sungai yang telah dipulihkan. Ini adalah bentuk tanggung jawab antargenerasi yang melekat pada konsep pembangunan berkelanjutan. Teknologi kriopreservasi adalah asuransi hayati bangsa di tengah ketidakpastian ekologis yang luar biasa. Ia tidak menjamin bahwa kita tidak akan kehilangan spesies; ia menjamin bahwa kita tidak akan kehilangan kesempatan untuk mencoba menyelamatkan mereka.