Kanker serviks adalah pembunuh nomor satu wanita Indonesia. Setiap tahun, lebih dari 20.000 kasus baru didiagnosis, dan lebih dari 9.000 wanita meninggal karena penyakit ini. Angka ini sangat tragis karena kanker serviks adalah kanker yang paling dapat dicegah. Dengan skrining rutin menggunakan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) atau Pap smear, lesi prakanker dapat dideteksi dan diobati sebelum berkembang menjadi kanker invasif. Namun, realitasnya, cakupan skrining nasional masih di bawah 10%. Masalahnya bukan pada kemauan atau kesadaran; masalahnya adalah teknologi yang tidak sesuai konteks. Pap smear membutuhkan laboratorium sitologi dan ahli patologi yang hanya tersedia di kota besar. IVA, meskipun sederhana, memiliki sensitivitas yang sangat bervariasi tergantung keterampilan pemeriksa, dan hasil positif seringkali membutuhkan konfirmasi dengan metode yang lebih akurat. Diperlukan lompatan teknologi yang secara fundamental mengubah paradigma skrining: alat yang sangat murah, sangat sederhana, sangat portabel, dan memberikan hasil instan.
Visi Proyek NUSA-DETEKSI adalah mengembangkan instrumen diagnostik berbasis spektroskopi impedansi listrik untuk deteksi dini kanker serviks dan payudara, yang dirancang khusus untuk digunakan oleh bidan dan perawat di puskesmas dan posyandu.
Prinsip Fisika. Jaringan kanker memiliki sifat listrik yang berbeda dengan jaringan normal. Sel kanker memiliki membran yang lebih permeabel, susunan sel yang lebih tidak teratur, dan kepadatan ion yang berbeda. Ketika arus listrik lemah (amplitudo mikroampere, frekuensi 10 Hz – 1 MHz) dialirkan melalui jaringan, impedansi (hambatan) yang terukur akan berbeda antara jaringan sehat dan jaringan abnormal. Dengan menganalisis spektrum impedansi pada berbagai frekuensi, kita dapat membedakan antara normal, prakanker, dan kanker invasif.
Instrumen Serviks. Instrumen ini berbentuk seperti pena dengan ujung bulat kecil. Bidan memasukkan spekulum, mengoleskan larutan garam fisiologis (bukan asam asetat), lalu menempelkan ujung pena ke permukaan leher rahim pada beberapa titik. Sensor di ujung pena mengukur impedansi pada 20-30 frekuensi berbeda. Proses ini memakan waktu kurang dari 30 detik, sama sekali tidak sakit. Algoritma machine learning yang telah dilatih dengan ribuan data dari pasien di berbagai fasilitas kesehatan akan langsung menampilkan hasil: “Normal” , “Lesi Prakanker Derajat Rendah” , “Lesi Prakanker Derajat Tinggi” , atau “Curiga Kanker Invasif” . Hasil ini tersedia dalam 1 menit. Bidan dapat langsung memberikan konseling dan, jika diperlukan, merujuk pasien ke fasilitas yang memiliki kemampuan krioterapi atau bedah listrik.
Instrumen Payudara. Kanker payudara juga memiliki tanda impedansi yang khas. Instrumen untuk payudara berbentuk seperti sisir kecil dengan 8-16 sensor pada permukaannya. Petugas kesehatan menggerakkan sisir ini secara perlahan di atas permukaan payudara, mirip dengan gerakan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Sensor-sensor ini mencitrakan peta impedansi 2D dari jaringan di bawah kulit. Area dengan impedansi abnormal akan ditandai dengan warna berbeda pada layar tablet. Jika ditemukan area mencurigakan, pasien dirujuk untuk USG atau mamografi di fasilitas yang lebih lengkap. Keunggulan metode ini: tidak ada radiasi (aman untuk wanita hamil dan menyusui), tidak sakit, dan dapat dilakukan oleh tenaga non-dokter.
Komponen Kecerdasan Buatan. Performa alat ini sangat bergantung pada kualitas model AI yang menginterpretasi data impedansi. Pengembangan model ini membutuhkan dataset yang sangat besar dan beragam. Proyek NUSA-DETEKSI membangun konsorsium pengumpulan data yang melibatkan 10-20 rumah sakit pendidikan di seluruh Indonesia. Setiap pasien yang menjalani biopsi atau prosedur diagnostik standar akan menjalani pengukuran impedansi terlebih dahulu. Data impedansi kemudian dilabeli dengan hasil histopatologi (standar emas). Semakin besar dan beragam dataset (berbagai usia, berbagai stadium, berbagai etnis), semakin akurat model yang dihasilkan.
Manufaktur dan Distribusi. Instrumen ini dirancang untuk diproduksi di dalam negeri oleh industri alat kesehatan nasional. Komponen utamanya adalah elektronik sederhana (mikrokontroler, generator sinyal, ADC) yang sudah tersedia secara luas. Satu-satunya komponen yang mungkin perlu diimpor adalah chip khusus untuk pemrosesan sinyal cepat, namun desain terbuka (open hardware) memungkinkan substitusi dengan komponen alternatif. Target harga per unit di bawah Rp 50 juta, jauh lebih murah dibanding kolposkop atau USG.
Dampak NUSA-DETEKSI bersifat transformatif. Pertama, ia mendemokratisasi akses ke diagnostik presisi. Bidan di puskesmas terpencil di Pulau Sumba memiliki kemampuan deteksi dini yang setara dengan dokter spesialis di Jakarta. Kedua, ia mengurangi beban rujukan. Hanya pasien dengan hasil positif yang perlu dirujuk ke rumah sakit; pasien dengan hasil normal dapat ditenangkan dan dijadwalkan skrining ulang 3-5 tahun kemudian. Ketiga, ia mengubah perilaku skrining. Jika skrining hanya membutuhkan waktu 1 menit, tidak sakit, dan hasilnya langsung diketahui, maka hambatan psikologis wanita untuk datang ke fasilitas kesehatan akan jauh berkurang. NUSA-DETEKSI adalah senjata baru dalam perang melawan kanker wanita Indonesia. Ia tidak membutuhkan rumah sakit mewah atau dokter spesialis; ia hanya membutuhkan bidan yang kompeten dan alat yang cerdas.