Teknologi Pengolahan Air Laut Menjadi Air Mineral Siap Minum (Deep Ocean Water – DOW) dan Ekstraksi Mineral Langka: Memanfaatkan Lapisan Dalam Laut untuk Ketahanan Air dan Industri

Di balik masalah air laut dangkal yang hangat dan tercemar, terdapat sumber daya raksasa di kedalaman laut: Deep Ocean Water (DOW). DOW adalah air laut dari kedalaman >200 meter yang bersifat dingin (4-10°C), kaya mineral, steril, dan bebas polutan. Teknologi pemanfaatannya multidimensi:

  1. Air Mineral Siap Minum Berkualitas Premium: DOW dipompa ke darat, kemudian melalui proses desalinasi bertekanan rendah (memanfaatkan perbedaan suhu dengan air permukaan) atau reverse osmosis. Karena komposisi mineralnya sudah seimbang dan bebas polutan, hasilnya adalah air mineral alami laut dalam dengan kandungan elektrolit unggul. Ini dapat menjadi solusi air minum premium untuk pulau-pulau resort dan kota pesisir.
  2. Air Pendingin untuk Data Center dan Industri: Sifatnya yang dingin dapat digunakan sebagai sumber pendingin alami untuk pusat data (data center) pesisir atau industri, mengurangi konsumsi energi AC hingga 90%. Google telah menerapkan ini di Finlandia.
  3. Budidaya Perikanan & Marikultur Presisi: DOW yang dingin dan steril adalah media ideal untuk pembenihan ikan dan udang berkualitas tinggi, mengurangi risiko penyakit.
  4. Ekstraksi Mineral dan Logam Langka: DOW kaya akan litium, magnesium, rubidium, dan uranium yang terlarut. Teknologi adsorpsi selektif menggunakan material khusus dapat “menambang” mineral berharga ini langsung dari air laut, alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada penambangan darat.

Potensi di Indonesia: Perairan Indonesia dalam seperti Laut Banda, Laut Sulawesi, atau Samudera Hindia memiliki potensi DOW luar biasa. Pemanfaatannya memerlukan infrastruktur pipa laut dalam dan pabrik pengolahan pesisirTantangan teknis adalah korosi dan biofouling pada pipa, serta efisiensi proses ekstraksi mineral. Inisiatif riset dapat dipimpin oleh BPPT, LIPI, dan KKP dengan melibatkan universitas kelautan (Unhas, UNDIP) dan industri. Teknologi ini membuka babak baru “ekonomi biru dalam”, di mana laut bukan hanya sebagai jalur transportasi, tetapi sebagai sumber air, energi, pangan, dan material strategis yang berkelanjutan.