Teknologi Wearable untuk Kebugaran, Dari Sekadar Menghitung Langkah Kini Bisa Mendeteksi Gejala Awal Penyakit Jantung

Jam tangan pintar dan gelang kebugaran telah menjadi aksesori umum. Fungsinya dulu hanya sekadar penghitung langkah dan pemantau detak jantung sederhana. Kini, teknologi wearable telah berevolusi menjadi perangkat kesehatan yang canggih. Sensor di dalamnya kini mampu melakukan elektrokardiogram (EKG) untuk mendeteksi fibrilasi atrium (gangguan irama jantung), mengukur kadar oksigen dalam darah (SpO2), memantau kualitas tidur, dan bahkan mendeteksi risiko sleep apnea.

Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan dan kebugaran meningkat, dan perangkat wearable menjadi populer di kalangan masyarakat perkotaan. Data yang dihasilkan perangkat ini memberi pengguna wawasan yang lebih dalam tentang kondisi tubuh mereka. Seseorang bisa mendapatkan peringatan dini jika detak jantungnya tidak normal saat istirahat, lalu segera berkonsultasi ke dokter. Ini adalah pergeseran dari pengobatan reaktif menjadi proaktif.

Data kesehatan individu yang dikumpulkan oleh perangkat wearable sangat sensitif. Jika data ini dapat diintegrasikan dengan sistem rekam medis elektronik (RME) dengan persetujuan pasien, dokter akan memiliki gambaran yang lebih holistik tentang kesehatan pasien di luar kunjungan klinik. Data agregat dari jutaan pengguna juga dapat digunakan untuk penelitian kesehatan masyarakat, misalnya untuk mempelajari pola tidur masyarakat Indonesia atau korelasi antara aktivitas fisik dan penyakit tidak menular.

Namun, ada risiko besar jika data ini jatuh ke tangan yang salah. Perusahaan asuransi, misalnya, bisa saja menggunakan data kesehatan untuk menaikkan premi atau menolak klaim. Oleh karena itu, keamanan data dan regulasi yang melindungi konsumen dari penyalahgunaan data kesehatan menjadi sangat penting. Pengguna juga harus diedukasi tentang bagaimana data mereka digunakan dan memiliki kendali penuh atas data tersebut.